Sunday, February 14, 2016
Sehari Dua Wawancara dan Pemotretan: Majalah Bobo dan Majalah Girls
Hari Rabu, 13 November 2015, aku izin sekolah setengah hari karena ada janji dengan Kak Ana untuk wawancara dengan Majalah Bobo di Gedung Kompas-Gramedia. Kami pertama bertemu di penutupan dan malam puncak Konferensi Anak Indonesia 2015 setelah diperkenalkan oleh Tante Kusussani Prihatmoko, pimpinan Majalah Bobo. Cerita saat aku diundang sebagai alumni KONFA Bobo 2009 ke acara KONFA Bobo 2015 ada di tulisanku ini: KONFA 2015 Bersama Ibu Menteri Yohana Yembise. ^_^
Sekitar pukul 12.00 aku dan mama sampai di gedung Kompas-Gramedia. Aku sudah pernah ke gedung itu sebelumnya pada saat pembukaan Konferensi Anak Bobo 2009 saat aku menjadi salah satu delegasinya. Udah lama banget, ya!
Karena udah masuk waktu zuhur, mama menghubungi Kak Ana untuk mampir sholat zuhur dulu di mushola lantai dasar. Setelah itu, kami langsung ke kantor Majalah Bobo. Kami bertemu dengan Kak Ana dan langsung melakukan wawancara. Aku ditanya berbagai hal yang berkaitan dengan dunia menulis. Setelah itu, aku juga melakukan sesi foto yang nantinya dimuat bareng profilku di Majalah Bobo.
Selesai dari Majalah Bobo, kami menunggu di lantai bawah karena mama ingin bertemu dengan Tante Renny Yaniar yang bekerja di majalah Mombi. Tapi ternyata saat itu Tante Renny lagi cuti. Ya udah, mama memutuskan untuk pulang aja. Tepat saat kami keluar gedung menuju parkiran mobil, kami bertemu dengan Kak Irfan yang pernah mewawancaraiku untuk Tabloid Nakita . Kak Irfan pun mengajak kami untuk mampir ke ruangannya. Mama menyetujuinya. Oh ya, profilku di Tabloid Nakita, aku simpan di link ini: Di Tabloid Nakita.
Di ruangan Kak Irfan, di Tabloid Nakita, kami diperkenalkan dengan redaksi Majalah Girls. Waktu itu kami berkenalan dengan Kak Febhy dan Kak Nendra (fotografernya). Kak Febhy langsung tertarik untuk memuat profilku untuk Majalah Girls. Tapi karena saat itu wartawannya lagi tidak ada di tempat semua, jadinya aku diminta foto dulu aja. Sementara wawancaranya dilakukan menyusul lewat email oleh Kak Tina.
Wah, jadinya dalam sehari, aku melakukan wawancara dan sesi pemotretaan untuk profilku di dua majalah, yaitu Majalah Bobo dan Majalah Girls. Untungnya mamaku bawa baju cadangan. Jadi baju pemetretan untuk Majalah Bobo beda sama baju untuk pemotretan Majalah Girls.
Majalah Girls-nya sudah terbit akhir Desember 2015 untuk edisi perpisahan. Senang sekaligus sedih. Senang karena profilku ada di Majalah Girls. Sedih karena itu adalah edisi terakhir sekaligus perpisahan Majalah Girls. Mulai awal Januari 2016, Majalah Girls sudah tidak terbit dan beredar lagi. Profilku untuk Majalah Girls ada di tulisanku yang ini: Profilku di Majalah Girls.
Sementara profilku di Majalah Bobo akan ada pada edisi No 46 yang akan terbit Kamis ini, 18 Februari 2016. Jangan terlewatkan, ya, Teman-Teman!
__________________________
Nah, ternyata Majalah Bobo No 46 udah terbit.
Link-nya ada di tulisanku ini: Profilku di Majalah Bobo
Silahkan meluncur kalau mau baca. ^_^
Monday, February 8, 2016
Sharing di PSFT #4
Tanggal 21-23 Desember 2015 aku diundang ke acara Public Speaking for Teens (PSFT) batch 4 sebagai alumni PSFT 3 dan ambassador PSFT. PSFT merupakan acara liburan yang diadakan oleh Akademi Trainer, dimana kami diajarkan cara berani berbicara di depan umum, berbagi pengalaman, serta mengisi liburan bersama teman-teman baru dengan memfokuskan pada visi misi yang akan kami capai bagi masa depan kami. Acara ini diadakan di Bumi Gumati Hotel, Bogor, selama 3 hari 2 malam.
Hari pertama, Senin, 21 Desember 2015, aku datang diantar mamaku. Saat itu, teman-teman peserta PSFT 4 sudah mulai berkegiatan. Aku langsung bergabung bersama mereka. Kami diperkenalkan dengan rantai gajah, juga belajar mencari 4ON, yaitu Vision, Action, Passion, dan Collaboration untuk masa depan.
Selain itu, teman-teman peserta PSFT 4 juga melakukan tes sidik jari untuk menentukan mesin kecerdasan mereka. Aku sudah melakukannya saat ikut PSFT 3. Mesin kecerdasan adalah bagian otak yang dominan dalam beraktivitas. Ada 5 mesin kecerdasan, yaitu, Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting, yang disingkat menjadi STIFIn. Mesin kecerdasanku sendiri adalah Insting, yaitu otak bagian tengah. Orang Insting itu tidak memiliki kekurangan, namun tidak memiliki kelebihan, alias serba bisa. Meski begitu, perilaku kita bukan 100% berdasarkan mesin kecerdasan, ada beberapa hal lain yang dapat mempengaruhi, diantaranya jenis kelamin dan golongan darah.
Malam harinya, ada sesi bersama alumni dan ambassador. Aku menjadi salah satu pengisinya bersama Hana, alumni PSFT 2 yang berhasil mengumpulkan uang untuk acara sekolahnya hanya dengan modal pandai berkomunikasi, dan kak Izzan, alumni PSFT 1, produser film pendek yang sudah memenangkan banyak kompetisi. Aku sendiri, alumni PSFT 3 bercerita bagaimana aku dapat menemukan passionku di dunia menulis.
Hari kedua, Selasa, 22 Desember 2015, beberapa peserta PSFT 4 menghampiriku dan meminta aku untuk menjadi mentor maupun partner mereka dalam menjalani 4ON di sesi Collaboration. Ada Fikar, yang juga bercita-cita menjadi penulis, kemudian ada Padma, teman sekelasku yang ternyata ikut acara ini juga bersama adiknya. Aku dan Padma bahkan sudah mulai berdiskusi mengenai proyek-proyek kolaborasi yang akan kami buat.
Setelah belajar mengenai 4ON, peserta PSFT 4 meneriakkan visi hidup mereka serta visi satu tahun ke depan. Berbagai jenis visi dikemukakan. Ada yang ingin menjadi pengusaha sukses, guru, hingga hafidz Qur’an. Aku pun terkagum-kagum dengan visi mereka dan mengaminkannya. Semoga kita sama-sama bisa jadi orang yang sukses mulia, ya, kawan-kawan!
Malamnya, ada api unggun yang membuatku sangat senang, karena aku tidak dapat merasakannya saat mengikuti PSFT 3. Kebetulan, saat PSFT 3, sebelum dimulai api unggunnya, tiba-tiba turun hujan sehingga kami hanya dapat bermain dan bersenang-senang di bawah atap. Ditemani api unggun, peserta PSFT 4 menampilkan sebuah penampilan per kelompok. Ada yang bernyanyi, drama, puisi, dan sebagainya.
Hari terakhir, Rabu, 23 Desember 2015, pagi-paginya, para peserta membuat mind map presentasi mengenai 4ON mereka masing-masing, setelah itu mereka mempresentasikannya di depan orang tua dan teman-teman. Siangnya, aku dan mama pulang, menghindari kemacetan di sore hari.
Terima kasih kakak-kakak di Akademi Trainer, terutama Om Jamil Azzaini dan Bunda Sofi atas kesempatannya. Terima kasih telah melibatkanku di kegiatan hebat dan kerON ini selama 3 hari 2 malam (21-23 Desember 2015). Lagi-lagi aku mendapat ilmu yang tidak kudapatkan di sekolah, juga menambah teman, dan bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman peserta PSFT 4. ^_^
Foto-foto lengkapnya ada di:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.941804165914865.100002558717962&type=3
Sunday, December 27, 2015
Lomba Menulis Surat Pos Indonesia
Tema: Generasiku Melawan Korupsi
Persyaratan:
- Usia 13 - 17 tahun (SMP/MTs/SMA/MA/SMK Sederajat)
- Mengirimkan fotocopy kartu Siswa
- Format surat dengan komposisi sebagai berikut: Tempat dan tanggal lahir, alamat tujuan, salam pembuka, isi surat, salam penutup dan tanda tangan
- Tulisan harus ditulis tangan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan tinta berwarna hitam yang terdiri dari 800 - 1000 kata ( 2 halaman kertas folio bergaris)
- Tulisan dapat ditujukan kepada siapa pun. Contohnya orang tua, sahabat, walikota bandung, gubernur jawa barat, KPK, dan lain- lain
- Tulisan asli karangan sendiri dan tidak mengandung unsur pelecehan / penghinaan terhadap SARA
- Tulisan belum pernah dipublikasikan dan diikutsertakan dalam lomba sejenis
- Hasil Tulisan dikirim tanggal 11 Desember 2015 dan paling lambat tanggal 11 Februari 2016 ke PO BOX Kantor Pos Bandung dengan mencantumkan nama jelas, alamat, dan nomor telephone serta menggunakan perangko pos Rp 5.000,- , yang diteguhkan dengan cap tanggal pos terakhir dan dibawahnya ditulis "Lomba Menulis Surat"
- Info lebih lengkap dapat mengunjungi kantor pos terdekat se-Jawa Barat atau media sosial Pos Indonesia
Hadiah Lomba:
Total Hadiah 80 Juta Rupiah
Untuk 30 Finalis terbaik bisa mengikuti Pelatihan Menulis pada tanggal 9 Maret 2016 di Balai Kota Bandung Bersama : Tere Liye, Ginarti S. Noer, dan Habiburrahman El Shirazy
Info Lebih Lanjut:
Facebook: Pos Indonesia
Twitter: @PosIndonesia
Web: www.posindonesia.co.id
Sumber: http://www.posindonesia.co.id/
Lomba Menulis Cerpen Perhutani
Persyaratan Lomba Menulis Cerpen Hutan dan Lingkungan Perhutani Green Pen Award 3 Tahun 2016
1. Peserta:
Warga Negara Indonesia di Tanah Air maupun yang sedang berada di luar negeri
- Pelajar SLTP sederajat (Kategori A),
- Pelajar SLTA & Mahasiswa (Kategori B),
- Umum, Guru, Dosen, Penulis/Pengarang (Kategori C).
3. Judul naskah bebas, tema cerita: kehidupan dengan berbagai aspeknya terkait hutan, alam dan lingkungan hidup.
4. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, indah (literer) dan komunikatif.
5. Naskah adalah karya asli, bukan jiplakan, terjemahan atau saduran dan belum pernah dipublikasikan, disertai dengan dokumen pernyataan diatas materai.
6. Naskah panjangnya 5 s/d 10 halaman A4, diketik 1,5 spasi huruf Times New Roman ukuran 12 font, margin standar.
7. Naskah dicetak atau print out sebanyak 2 (dua) rangkap, file dimasukkan dalam CD atau Flashdisk
8. Peserta diperbolehkan mengirimkan naskah lebih dari 1 (satu) judul, maksimal 2 (dua) judul.
9. Naskah dimasukkan ke dalam amplop tertutup, tulis kategori A/B/C pada amplop, kirim ke:
Panitia Perhutani Green Pen Award 201610. Naskah dilampiri:
Perhutani Residence, Jl. Gedung Hijau I No. 17, Pondok Indah,
Jakarta Selatan 12310.
- Biodata lengkap; alamat, nomor telpon/HP, Email yang mudah dihubungi.
- Fotocopy Kartu Pelajar (Kategori A);
- Fotocopy Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa dan KTP bagi Mahasiswa (Kategori B)
- Fotocopy KTP/Paspor dan indentitas lainnya (Kategori C)
- Tulisan singkat tentang salah satu kegiatan Perum Perhutani, diketik rapi minimal 70 kata, diperbolehkan menambah foto apabila ada.
- Sumber informasi Situs Resmi www.perumperhutani.com atau sumber lain dengan menyebut nama sumber.
12. Panitia tidak memungut biaya apapun, tidak menunjuk perwakilan dan tidak melayani surat menyurat terkait penyelenggaraan ini.
13. Naskah yang dilombakan menjadi milik Perum Perhutani dan dapat diterbitkan untuk kepentingan Perusahaan.
14. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.
Hadiah
Hadiah Kategori A
Pemenang 1: Piala, Piagam dan Uang Tunai Rp 3.000.000,-
Pemenang 2: Piagam dan Uang Tunai Rp 1.500.000,-
Pemenang 3: Piagam dan Uang Tunai Rp 1.000.000,- 5 (Lima)
Pemenang Harapan: Piagam, Uang Tunai Rp 500.000,-
Hadiah Kategori B
Pemenang 1: Piala, Piagam dan Uang Tunai Rp 4.000.000,-
Pemenang 2: Piagam dan Uang Tunai Rp 2.000.000,-
Pemenang 3: Piagam dan Uang Tunai Rp 1.500.000,- 5 (Lima)
Pemenang Harapan: Piagam, Uang Tunai Rp 750.000,-
Hadiah Kategori C
Pemenang 1: Piala, Piagam dan Uang Tunai Rp 5.000.000,-
Pemenang 2: Piagam dan Uang Tunai Rp 3.000.000,-
Pemenang 3: Piagam dan Uang Tunai Rp 2.000.000,- 5 (Lima)
Pemenang Harapan: Piagam, Uang Tunai Rp 1.000.000,-
Sumber: http://perumperhutani.com/2015/11/perhutani-green-pen-award-2016/
Wednesday, December 16, 2015
Review Film "Bulan Terbelah di Langit Amerika": Menyatukan yang Terbelah
Menyatukan yang Terbelah
Selasa, 15 Desember 2015, aku dan mama diundang ke acara media screening dan premier film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Kali ini aku tidak hanya datang berdua dengan mama, melainkan bersama teman-temanku di SMA Labschool Jakarta yang juga mendapatkan tiket media screening, Syifa, Saqo, Putsas, dan Tasya.
Bulan Terbelah di Langit Amerika adalah sebuah film hasil produksi Maxima Pictures, disutradai oleh Rizal Mantovani, dan diangkat dari novel dengan judul yang sama oleh Kak Hanum Salsabila Rais dan Kak Rangga Almahendra. Adakah yang sudah familiar dengan nama di atas? Ya, kak Hanum dan kak Rangga juga yang menulis buku 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika adalah lanjutan dari 99 Cahaya di Langit Eropa dengan tokoh utama yang sama, Hanum yang diperankan oleh Acha Septriasa dan Rangga yang diperankan oleh Abimana. Saat melakukan bedah buku di Gramedia Matraman, aku bertemu dengan Kak Hanum dan Kak Rangga. Alhamdulillah sampai sekarang silaturahminya masih terjalin dengan baik sehingga aku bisa hadir dalam premier film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Terima kasih Kak Hanum dan Kak Rangga. :)
9/11
New York, 11 September 2001. Tentu tidak ada yang merasa asing dengan tanggal tersebut. Hari dimana Presiden Amerika George Bush akan mengunjungi Brooker Elementary School do Florida. World Trade Center. Tempat jatuhnya korban dalam tragedi kemanusian. Inilah yang disebut sebagai agenda Tuhan.
Sejak hari itu, dunia memecah belah berbagai pihak, memupuskan kepercayaan. Sejak saat itu, bulan terbelah. Film ini telah membuat saya yakin dan makin percaya dengan Islam. Film yang mempersatukan bulan yang terbelah. Film yang telah membuat saya percaya bahwa dunia tanpa Islam adalah dunia tanpa kedamaian.
Discrimination Againsts Hijabers
Dalam satu scene di film ini, ditampilkan bagaimana tidak sedikitnya orang yang melakukan diskriminasi terhadap kaum berhijab. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh tetangga dari Sarah dan Azima Hussein. Ketika Hanum mendatangi rumah Sarah dan Azima untuk melakukan wawancara, ia salah mengetuk pintu, dan ternyata orang yang tinggal di rumah itu adalah seseorang bernama Billy, yang nyawa anak lelakinya direngut oleh peristiwa 9/11. Billy, melihat Hanum memakai hijab, ia tidak tinggal diam. Billy menanyakan apakah Al-Qur’an mengajarkan Hanum untuk membunuh orang yang berbeda darinya, untuk membunuh anaknya dan ribuan orang lain.
Untungnya Azima datang dan mengajak Hanum masuk ke rumahnya, menjelaskan bahwa ia baru saja mengalami diskriminasi terhadap perempuan berhijab. Tidak hanya muslim, namun biarawati yang memakai penutup kepala pun mendapatkan diskriminasi yang sama.
Al-Qur’an, Batu Akik, hingga Kue
Perkenalkan, Sarah Hussein, seorang anak yatim. Ayahnya menghadiahkan Al-Qur’an pada hari ulang tahunnya. Berpesan bahwa itu adalah hadiah terbaik yang dapat diberikannya. 8 tahun kemudian, Sarah memeluk Al-Qur’an itu, satu-satunya hal yang diingat olehnya tentang ayahnya. Ia memutuskan untuk tetap percaya pada ayahnya. Bahwa ayahnya bukan monster atau teroris seperti yang dibicarakan oleh teman-temannya.
Tak hanya Al-Qur’an, batu akik pun ikut masuk dalam film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Islam adalah agama yang mencintai damai. Islam tidak mengajarkan kebencian. Setiap batu akik mempunyai warna-warni yang unik, sama seperti manusia. Orang yang tidak patut dicontoh sama halnya seperti batu akik yang jelek. Namun orang-orang masih mau memakai batu akik itu untuk mewarnai hidup mereka. Kue juga merupakan hal yang meninggalkan kesan dalam film ini. Kue yang dibuat oleh Sarah untuk Billy. Kue sebagai perantara untuk terus bersilaturahmi. Kue yang menyadarkan Billy bahwa sebenarnya Al-Qur’an mengajarkan untuk berbagi.
Diss for Reporters
Aku kebetulan juga berkesempatan untuk menghadiri press conference dari film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Pada saat itu, ada reporter yang menyampaikan bahwa ada adegan dalam film yang mengusik hati para reporter. Adegan itu adalah adegan saat Azima tahu bahwa Hanum berbohong untuk mendapatkan alamat dan nomor teleponnya. Azima berkata bahwa ia tidak percaya pada reporter maupun media. Reporter hanya mementingkan artikel, namun tidak mementingkan orang yang diwawancara.
Would the World be Better Without Islam?
No, jika iya mengapa ada pahatan Nabi Muhammad sebagai salah satu “lawgiver” di Mahkamah Agung Amerika Serikat?
Islam mengajarkan kebaikan. Islam mengajarkan untuk berbagi. Islam mengajarkan untuk menyayangi dan mengasihi. Islam mengajarkan untuk memberi toleransi satu sama lain. Satu hal yang tumbuh di benakku, apa jadinya dunia tanpa Islam? Dunia tanpa Islam adalah dunia tanpa perdamaian. Perang dan perselisihan yang terjadi di dunia ini bukanlah disebabkan oleh agama, melainkan uang dan kekuasaan, seperti kata Rangga.
Nasib Stefan
Dari semua tokoh yang ada dalam film ini, satu-satunya yang masih belum mendapat kejelasan di ending adalah Stefan. Stefan sudah bersama Rangga dan Hanum sejak 99 Cahaya di Langit Eropa. Kini ia sedang mengejar PhD-nya di New York dan tinggal bersama pacarnya, Jasmine. Namun, pada akhir film, ending Stefan masih buram. Salah seorang reporter menanyakan bagaimana kelanjutan nasib Stefan. Dan pemain Stefan menjawab bahwa akan ada kelanjutan filmnya tahun depan. Hmmm ….
*****
Setelah press conference, aku juga sempat bertanya pada Kak Rangga mengenai konten film maupun novel Bulan Terbelah di Langit Amerika. Mana yang fiksi dan mana yang diambil dari cerita asli. Kak Rangga menjawab bahwa yang fiksi tentu adalah adegan 9/11, dan untuk segala kebetulan yang ada di film itu memang sudah direncanakan jauh hari.
Hari itu aku mendapat banyak pengalaman dan pelajaran. Terima kasih untuk Kak Rangga dan Kak Hanum yang telah memberikan aku kesempatan untuk datang ke premier film terbarunya. Filmnya bagus banget. Do’akan agar aku dapat mengikuti jejak kakak berdua supaya novelku difilmkan. Sukses terus, ya, Kak!
Nah, pasti pada penasaran kan sama filmnya? Film ini akan diputer serentak tanggal 17 Desember 2015 di seluruh teater di Indonesia. Kabarnya, film ini juga akan tayang di Malaysia mulai minggu ketiga bulan Januari. Untuk yang sudah baca bukunya dan ingin melihat visualisasi dari buku yang dibaca, ayo tonton filmnya! Mumpung sudah mau libur akhir tahun, jangan lupa ajak keluarga dan teman-teman juga, ya!
*****
Foto-foto selengkapnya ada di FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.913537215408227.100002558717962&type=3
Saturday, November 28, 2015
Launching Buku "Arief Rachman GURU"
Selasa, 23 November 2015, aku izin sekolah setengah hari untuk menghadiri peluncuran buku ARIEF RACHMAN: GURU yang didasari oleh catatan Pak Ukim Komarudin, kepala sekolah SMP Labschool Kebayoran, yang bertempat di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Alhamdulillah aku diijinkan. Aku diberi tugas titipan oleh guru-guruku. Beberapa guruku pun ikut menghadiri acara peluncuran buku itu.
Buku itu menceritakan kisah-kisah Pak Arief Rachman sebagai guru, juga kiat-kiat beliau untuk menyemangati murid-muridnya selama mengajar, yang tentunya kudapatkan semasa aku belajar di Labschool, SMP maupun SMA. Mulai dari lagu Halo-Halo Labschool, Anak Labschool Keren-Keren, hingga lagu yang biasa kami lantunkan saat lari Jum'at.
Aku dan mama sampai di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sekitar pukul setengah 1 siang. Acara akan mulai sekitar pukul 1 karena diberi hidangan makan siang terlebih dahulu. Saat itulah aku mencuri start untuk meminta tanda tangan Pak Arief. Di sana aku juga bertemu dengan Bu Indira Sunito, ketua Badan Pengelola Sekolah (BPS) Labschool beserta jajarannya. Di tempat yang sama, aku bertemu dan dikenalkan oleh Pak Arief Rachman kepada Bu Mien R. Uno. Aku pun memberikan buku-bukuku pada beliau. Ada pula Bu Conny Semiawan, guru besar Universitas Negeri Jakarta.
Tempat dudukku juga rupanya bersebelahan dengan Pak Rosiman, guru biologiku saat SMP, dan Pak Ali Chudori, kepala sekolah SMP Labschool Jakarta. Sebelum acara dimulai, aku diajak berfoto dengan Pak Arief Rachman oleh Pak M. Fakhruddin, kepala sekolahku di SMA Labschool Jakarta.
Acara dibuka oleh Kak Alya Rohali sebagai MC. Pertama-tama kami semua menyanyikan lagu Indonesia Raya, diikuti penampilan tari piring dan saman oleh murid-murid SMP Garuda Cendikia yang berkebutuhan khusus. Aku kagum melihat mereka yang memiliki semangat untuk mengembangkan bakat untuk menutupi kekurangannya. Lalu ada sambutan-sambutan dari Direktur Esensi - Erlangga Group, Kak Adhi (anak kedua Pak Arief Rachman), dan Pak Ukim Komarudin (penulis atau pengumpul catatan-catatan mengenai Pak Arief Rachman). Selesai sambutan, ada penayangan film testimoni oleh guru-guru dan orang dekat dari Pak Arief Rachman yang dibuat oleh Pak Garin Nugroho.
Pak Taufiq Ismail, yang juga menghadiri acara itu membacakan 2 buah puisi tentang guru. Yang pertama adalah tentang guru-guru dalam kehidupan, yakni, Ibu, Ayah, dan buku. Yang kedua adalah tentang mencari sekolah yang mengajari rasa malu. Topik ini juga dibahas oleh Bu Indira saat peringatan hari guru di Labschool Jakarta tanggal 25 November 2015.
Sambil menunggu datangnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Pak Anies Baswedan, Kak Shahnaz Haque sebagai moderator mewawancarai Kak Deva, anak bungsu dari Pak Arief Rachman. Kak Deva bercerita ketika ia umur 2 tahun dan Pak Arief Rachman dipenjara. Kisahnya sangat mengharukan, aku pun juga merasa tersentuh. Setelah cerita dari Kak Deva, Pak Arief Rachman dan keluarga berfoto bersama. Tepat saat itu, Pak Anies Baswedan memasuki ruangan. Beliau meminta maaf atas keterlambatannya dan menceritakan pandangannya mengenai Kak Arief Rachman, begitu biasa beliau memanggilnya. Aku juga sempat memberikan beberapa bukuku untuk Pak Anies Baswedan.
Talkshow dan seminar pun dimulai. Kak Shahnaz Haque menjadi moderator dan ada Pak Arief Rachman, Pak Ukim, dan Pak Imam Prasodjo yang menjadi narasumber. Sebelumnya, kami juga disuguhi video mengenai guru di Indonesia. Pak Imam Prasodjo menjelaskan bagaimana pandangan Pak Arief Rachman mengenai pola pendidikan yang seharusnya diterapkan di Indonesia. Mulai dari character building, nation building, dan barulah knowledge and skill di posisi ketiga. Sayangnya, untuk saat ini sepertinya para guru lebih mementingkan apa yang seharusnya berada di peringkat ketiga itu. Beliau juga menceritakan kehebatan sosok Pak Arief Rachman yang bukan hanya guru, tetapi aktivis yang pernah masuk penjara, organisator yang hobi mengatur, pemimpin, da’i, dan imam yang memimpin do’a jenazah. Yang terakhir itu membuat para penonton tertawa. Pak Imam menceritakan bahwa Pak Arief Rachman memiliki hobi yang unik, yaitu datang melayat saat ada orang yang meninggal, dan memimpin do’anya. Tak hanya saat ada yang meninggal, Pak Fakhruddin ternyata punya kejadian unik yang dialami saat pernikahannya. Pak Fakhruddin bercerita bahwa karena kesibukkan Pak Arief Rachman, saat pernikahan Pak Fakhruddin 20 tahun yang lalu, beliau memimpin do’a bahkan sebelum acara dimulai karena harus menghadiri acara lain. Guru-guru di ruangan itu tertawa mendengar cerita itu.
Lalu, ada sesi tanya jawab. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya. Aku bertanya mengenai cerita-cerita yang kudapat dari adik-adik kelasku yang mengikuti Konferensi Anak Indonesia maupun Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2015 yang susah mendapat izin dari sekolah untuk mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu. Aku menanyakan bagaimana pendapat Pak Arief Rachman mengenai sekolah-sekolah yang kurang mendukung prestasi non-akademik anak didiknya. Namun sepertinya pertanyaan itu masih kurang terjawab. Tapi guru-guru bilang, aku bisa menanyakannya lagi di sekolah. Hahaha.
Setelah acara selesai, ada book signing dengan Pak Arief Rachman. Karena aku sudah mendapatkan tanda tangan beliau terlebih dahulu, aku pun berfoto dengan para narasumber. Mulai dari guru-guru, Pak Taufiq Ismail, juga Pak Imam Prasodjo. Aku sangat senang bisa menghadiri acara itu. Ditambah lagi aku menghadiri acara itu sebagai murid Labschool, yang selalu mendapat dukungan dan bimbingan Pak Arief Rachman. Semoga dengan diadakannya seminar dan peluncuran buku ARIEF RACHMAN: GURU, akan muncul sosok Pak Arief Rachman lain yang bisa meramaikan dunia pendidikan Indonesia, menginspirasi, dan memotivasi baik guru, orang tua, murid, maupun orang lain untuk terus berkarya karena seseorang akan diingat dari karyanya. Jika seorang penulis menghasilkan buku, seorang produser menghasilkan film, seorang guru akan menghasilkan murid-murid yang berprestasi dan berkarakter. Selamat Hari Guru. ^_^
Foto-foto lengkapnya ada di FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.905860642842551&type=3&pnref=story
Friday, November 27, 2015
Bertemu Wagub Jakarta di Pemilihan Abnon Buku 2015
Kamis, 19 November 2015, sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang karena harus membuat position paper untuk Model United Nation di SMAN 3 Jakarta. Aku bersama teman-temanku mengerjakannya di Lab Bahasa sekolah. Sejak duduk di bangku SMA Labschool Jakarta ini, aku sedang senang-senangnya berkegiatan. Nyaris hampir tiap hari pulang menjelang maghrib bahkan malam. Labschool sudah seperti rumah kedua bagiku dan teman-temanku. ^_^
Sekitar pukul 6 sore, aku dan teman-temanku keluar untuk membeli minuman. Ketika kembali ke lobby sekolah, kami bertemu dengan Bu Reni dan Bu Choi, guru-guru SMA Labschool Jakarta. Kami diajak untuk ikut menonton Grand Final Abang None Buku 2015 di gedung Sasono Langgen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah. Aku segera menelepon mamaku untuk minta ijin, karena sebelumnya aku sudah SMS untuk minta jemput di sekolah abis isya. Mamaku mengijinkan dan mau menyusulku ke TMII. Berhubung teman-temanku sudah dijemput, akhirnya aku sendiri yang ikut untuk sekaligus mendukung kakak kelasku, Kak Maira Sashi yang merupakan None Buku Jakarta Timur 2015. ^_^
Aku, Bu Reni, dan Bu Choi bersama Bu Ina dan Pak Fakhruddin (Kepala Sekolah SMA Labschool Jakarta) berangkat menuju TMII. Tiketnya adalah membawa satu buku layak baca. Acara dimulai pukul setengah 8 malam. Para finalis menampilkan tarian Betawi. Ada juga parade Abang None. Setelah ke-60 finalis dari Jakarta Pusat, Utara, Barat, Selatan, Timur, dan Kepulauan Seribu melakukan parade, dipilihlah 15 besar finalis yang akan maju ke babak selanjutnya. Penilaian finalis sudah dilakukan sejak mereka dikarantina selama beberapa hari, dengan agenda kegiatan berupa mengikuti seminar, belajar, dan bermain bersama. Ke-15 finalis berparade dan ada sesi tanya jawab dengan juri. Setelah itu, ada penampilan hiburan dari personel grup band lawas, Koes Plus. Acara ini juga dihadiri oleh Bapak Djarot Saiful Hidayat, Wakil Gubernur DKI Jakarta. Lalu diumumkan 10 besar finalis yang masuk ke babak selanjutnya. Kak Sashi masuk ke dalam 10 besar. Mereka melakukan parade dan ada sesi tanya jawab dengan juri lagi. Sekitar pukul 10.30 malam, akhirnya waktunya untuk pengumuman penghargaan Abang None Buku. Ada penghargaan Abang None Berbakat, Abang None Persahabatan, Abang None Wakil 2, Abang None Wakil 1, dan Abang None Buku 2015. Kak Sashi tidak menang, namun masuk ke-10 besar pun sudah menjadi penghargaan yang luar biasa. Selamat untuk Kak Sashi. ^_^
Ketika acara selesai, aku, Kepala Sekolah SMA Labschool Jakarta (Pak Fakhruddin), Bu Ina, dan guru-guru (Bu Reni dan Bu Choi) berfoto di background Abang None. Saat berfoto, kami melihat Pak Djarot diwawancara para wartawan. Selesai wawancara, aku mendekati beliau dan memberikan beberapa bukuku. Alhamdulillah, support Pak Djarot sungguh luar biasa. Bahkan Pak Iwan dari Perpustakaan Nasional akan mengajakku dan SMA Labschool Jakarta bekerja sama untuk berbagai kegiatan yang sedang disusun. setelah itu, kami berfoto bersama. ^_^
Terima kasih atas apresiasinya, Pak Djarot, Pak Iwan, dan seluruh jajaran staffnya. Terima kasih yang luar biasa juga untuk Pak Fakhruddin dan guru-guru SMA Labschool Jakarta yang terus mendukungku. Doakan agar aku bisa terus berkarya. ^_^
Foto-foto lengkapnya ada di FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.903104933118122&type=3&pnref=story
Sunday, November 15, 2015
Sharing Menulis di Parade Literasi SASI
Sabtu, 14 November 2015, aku diundang talkshow menulis di acara Parade Literasi yang diselenggarakan oleh Sekolah Alam Bekasi (SASI) bersama Kak Arie Fajar Rofian. Ini ketiga kalinya aku mengunjungi sekolah alam setelah sebelumnya diundang talkshow menulis di Sekolah Alam Cikeas dan Sekolah Alam Depok. ^_^
Pukul 7.30 aku bersama mamaku dijemput panitia. Lumayan jauh juga perjalanannya. Sampe SASI sekitar pukul 8.40. Kami disambut oleh Kak Abi Bhadra Maulana dan Kak Azis yang mengundangku, juga kakak-kakak panitia lainnya. Saat itu sedang berlangsung penampilan teman-teman SASI per kelas di atas panggung. ^_^
Setelah beristirahat sejenak sambil mencicipi snack yang disediakan, aku dan mamaku diajak berkeliling SASI oleh salah satu kakak panitia (aduh, aku lupa namanya. hehehe). Seperti sekolah alam pada umumnya, SASI pun sama berada di area yang luas yang sebagian besar adalah tanah yang ditanami berbagai jenis pohon buah-buahan. Kelas-kelasnya pun terdiri dari saung-saung bertingkat. Ada perkebunan dan peternakan yang lumayan luas di halaman belakangnya. Ada kolam beternak ikan juga. Yang paling asyik adalah area outbond yang luas dan tempat bermain flying fox. Wuiiih ... asyik ya! ^_^
Karena sedang ada acara Parade Literasi, maka di depan tiap kelas yang berupa saung-saung itu ada rak pameran buku. Disana dipamerkan buku-buku karya teman-teman SASI yang mereka tulis, gambar, bahkan cetak sendiri. Ada yang berbentuk buku cerita komik, picturial book, boardbook, bahkan novel. Aku sempat mengintip beberapa karya teman-teman SASI. Kereeen! ^_^
Acara talkshow dimulai sekitar pukul 10.00 setelah teman-teman SASI tampil mempertunjukkan kebolehan mereka menyanyi, menari, dan bermain drama. Aku tampil bersama Kak Arie. Kami berdua bergantian sharing dan menceritakan proses kreatif menulis. Saat giliran sesi tanya jawab, banyak orangtua yang bertanya. Kemudian ada 2 anak yang maju ke depan untuk menceritakan hasil karya tulis mereka. Keduanya mengingatkanku tentang cerpen-cerpenku ketika masih seumuran mereka. ^_^
Tak terasa, sejam sudah acara talkshow menulis berlangsung. Aku dan Kak Arie mendapatkan kenang-kenangan dari SASI. Setelah itu kami berfoto bersama guru-guru di sana. Makasih telah mengundang kami. Semoga acara ini bisa terus memotivasi teman-teman SASI untuk terus menulis. Aamiin. ^_^
Foto-foto lengkapnya ada di Facebook-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.900298283398787&type=3&pnref=story
Video Testimoni untuk KONFA 2015
Menjelang Konferensi Anak Indonesia (KONFA) 2015 kemarin, tepatnya berlangsung 3-6 November 2015, aku diminta membuat rekaman video oleh Tante Ani (Pimpinan Majalah Bobo).
Rekaman videonya berupa testimoni saat aku mengikuti kegiatan KONFA 6 tahun yang lalu, yaitu saat aku menjadi delegasi KONFA 2009. Waktu itu aku mewakili DKI Jakarta dan menjadi peserta termuda (8 tahun, kelas 4 SD). Tidak hanya testimoni mengenai kegiatan KONFA 2009 yang pernah kuikuti, Tante Ani pun memintaku untuk menceritakan kegiatan-kegiatanku sekarang. Makasih, Tante Ani. ^_^
Oh, ya, cerita tentang KONFA 2015 itu sendiri udah aku tulis disini. Silakan aja kalau mau dibaca-baca. Makasih. ^_^
Ini video testimoniku untuk KONFA 2015. ^_^
Link youtube: https://youtu.be/LpclEGRfyww
Sunday, November 8, 2015
Bedah Buku 4 Novelku Oleh Om Saifur (Dosen Sastra Program Doktor)
Saat sharing menulis dengan teman-teman di SMAN 62 Jakarta, aku didampingi oleh Om Saifur (Dosen Sastra Program Doktor) dan mamaku Shinta Handini. Ceritanya udah aku tulis disini. ^_^
Selain sharing menulis dengan teman-teman di sana, Om Saifur juga berkesempatan membedah 4 novel terbaruku, yaitu:
1. Fantasteen Ghost Dhormitory in Seoul
2. KKPK Lovely Lovy
3. Cookidz Sweety Pastello Macaron
4. Travela None Ondel-Ondel
Wah, enggak nyangka banget. Tapi seneng banget karena novelku dibedah oleh dosen sastra yang mengajar program doktor. Dan nggak cuma 1 novelku yang dibedah, tapi 4 novel.
Makasih banyak, Om Saifur. ^_^
Nah, ini tulisan Om Saifur yang membedah 4 novelku itu. Tulisan ini diperbanyak dan dibagi-bagikan kepada teman-teman dan guru-guru di SMAN 62 Jakarta.
Aku ijin sama Om Saifur untuk mempostingnya di blogku ini. Alhamdulillah Om Saifur sangat membolehkan. Sekali lagi, makasih banyak ya, Om. ^_^
___________________________________________________________________________________
Shake it Off
Oleh SAIFUR ROHMAN
Lagu Taylor Swift berjudul “Shake it off” mengisahkan kepada kita tentang peristiwa demi peristiwa dalam hidup yang bertumpukan, bertumbukan, saling bersatu, terlepas di tengah hiruk pikuk kehidupan kita. Karena itu, bagi Swift, dia berkata “Shake it off”, biarlah berlalu.
Dalam hidup, akan selalu ada hubungan antara satu kisah dengan kisah yang lain. Pengalaman bertemu dengan teman di perpustakaan suatu waktu akan menjadi sahabat dekat pada waktu yang lain. Atau mungkin menjadi pacaran lima tahun lagi. Itulah kenapa kebencian pada seseorang tidak boleh terlalu berlebihan karena suatu ketika kebencian itu bisa saja berubah menjadi cinta. Atau bahkan kisah-kisah Anda yang sama sekali tidak berhubungan pada masa sekarang ini, bisa saja akan sangat menentukan dalam hidup Anda pawa waktu yang lain. Contoh, ketika Anda terkantuk-kantuk di kegiatan ini, calon suami istri Anda entah di ruang dan waktu yang sama, sedang apa dia? Apa yang dia lakukan? Tidak pernah ada yang tahu sampai suatu ketika nasib akan menuntun Anda ke arah sana.
Fiksi juga tumpukan peristiwa demi peristiwa. Semula peristiwa itu tampak tidak berhubungan, tetapi di tangan pengarang, tiba menjadi sangat terkait. Menjadi jalinan cerita yang membuat kita bersedih.
Bagi pembaca, cerita-cerita di dalam fiksi juga akan terkait dengan pengalaman pembaca. Peristiwa-perisiwa yang terjalin di dalam cerita akan mengingatkan kita pada peristiwa kita sendiri. Kadang-kadang kita bisa saja mengatakan, “cerita persis kayak pengalaman gue”. Contoh, kalau kita menyaksikan kisah Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman maka kita seketika berkomentar, “Wah, Fahri dicintai banyak cewek, kayak gue banget tuh!”
Jadi tak ada yang terisah satu sama lain di dunia ini. Akan selalu ada hubungan untuk menghasilkan makna bagi hidup. Pengalaman sedih Anda akan memberi makna. Kesenangan Anda juga memberikan makna.
Karena itu, marilah kita mencari makna dari hubungan dua peristiwa yang terpisah. Saya akan menghubungkan cerita-cerita fiksi dengan lagu yang saya sukai. Saya akan menghubungkan kisah Lovely Lovy karya Thia dengan lagu “Because of You” Kelly Clarkson. Muthia Fadhila Khairunnisa lahir di Jakarta, 14 Januari 2001, sekolah di Labschool, mendapatkan anugerah penulis cilik terbaik pada 2011 dan penulis cilik terproduktif pada 2012. Buku-bukunya yangsudah terbit adalah Manusia Bunglon, Strawberry Secret, Magic Cookies, Miss Pantun dan Miss Fashion, The Pinky Girls, Ibu Baru, Hidung Pinokio Niko, Little Ballerina, Minmie’s Secret, Little Ballerina 2: Goes to Italy, Gimbal-gimbal Cantik, Hwaiting...! Let’s Sing with Me, Minmie’s Band, Hwaiting 2: Dreams Comes True, Little Ballerina 3: Singapore Championship, dan Juiceme Tersandung Hobiku. Tujuannya adalah mengambil makna dari cerita dan mengisahkan kembali melalui pengalaman kita. Bila direfleksikan dengan pendidikan, maka kegiatan ini sesuai dengan Permendikbud No 70 Tahun 2013 kelas XII kompetensi dasar 4.4 (mengabstraksikan prosa) dan 4.5. (mengonversi prosa), kelas XI kompetensi dasar 4.4 (mengabstraksikan prosa pendek) dan 4.5 (mengonversi prosa pendek).
Kisah Lovely Lovy dan Kelly Clarkson
Ringkasan:
Kisah berjudul Lovely Lovy mengetengahkan seorang siswa bernama Lovy. Dia memiliki hobi menulis cerita. karena itu, dia selalu menulis cerita di tengah-tengah kesibukan les. Bahkan suatu hari dia membolos dari les hanya untuk menulis cerita. karena itu, ibunya pun menanyakan apa yang terjadi. Dia berbohong sakit perut sehingga tidak masuk les. Sampai suatu ketika, berkat bantuan temannya yang bernama Tika, dan mengirim ke Penerbit Ananda. Tidak berapa lama, naskahnya diterbitkan sehingga mamanya tahu dia suka menulis. Sejak itu, mamanya memberikan waktu untuk menulis cerita.
Setelah naskahnya diterbitkan, sejumlah pembaca pun menyuratinya. Selain ada yang kagum, ada yang juga yang benci. Berdasarkan saran mama, Lovy menanggapi penggemarnya dengan cara yang biasa-biasa saja. Akibat bukunya, Lovy pun sempat berkeliling ke sekolah-sekolah untuk memperkenalkan ceritanya. Bahkan dia diundang oleh televisi untuk mengisahkan pengalamannya. Olok-olokan pun terus berlanjut dari penggemarnya, tetapi dia tidak tahu identitas pengirim. Sampai suatu ketika dia mendapati permintaan maaf dari Tika sahabatnya. Tika mengaku telah membuat surat ejekan itu kepadanya.
***
Sementara itu, lagu “Because of You” Kelly Clarkson berkisah tentang tokoh antara kamu dan aku yang menjalin hubungan. Hubungan itu menghasilkan pelajaran yang besar bagi dirinya sendiri. Dia tidak boleh menangis, tidak boleh salah langkah, tidak boleh kelihatan lemah, dan sejenisnya. Hal itu dapat diambil salah satu baitnya berikut ini:
Because of you I never stray too far from the side walk
Because of you I learned to play on the safe side so I don’t get hurt
Berdasarkan dua cerita itu, ada sebuah makna. Jadi kata “Because of you” dalam lagu Clarkson sangat relevan dengan peran mama Lovy yang memberikan bimbingan sehingga Lovy tidak tersesat. Mama Lovy memberikan waktu yang cukup untuk menulis cerita.
Berkat mama juga, Lovy “bermain aman” ketika harus menghadapi orang-orang yang membenci dia. Mama menyarankan agar membalas komentar para fans dengan cara yang baik karena dia merasa tidak memiliki salah. Dengan komentar yang baik, Lovy terbebas dari sakit hati. Dengan begitu, saat Lovy bermain aman, maka Lovy akan terhindar dari sakit hati.
Lagu Lenka “Trouble is a Friend”
dan Ghost Dormitory in Seoul
Kisah-kisah dalam Ghost Dormitory in Seoul: Patung Itu Tak Pernah Sendirian (2014) karya Thia mengingatkan saya tentang lagu Lenka berjudul ”Trouble is a Friend”. Lenka berkisah bahwa setiap orang akan bersahabat dengan masalah. karena itu, setiap orang harus memecahkan masalah itu dan bukan menjauhinya.
Ringkasan:
Ghost Dormitory in Seoul: Patung Itu Tak Pernah Sendirian (2014). Cerita diawali saat Ae melihat orang tenggelam di pantai Haeundae. Dia merasa ada gerakan tak wajar, seperti ada orang tidak kelihatan yang dengan sengaja menenggelamkannya. Yoo Ji Ae adalah siswa yang tinggal di Asrama Kyunghee, Seoul. Selain berdekatan dengan kuburan, tetapi gedung tersebut sudah sangat tua. Ada legenda bahwa siswa yang terpintar di sekolah itu telah melakukan bunuh diri. Hal itu diceritakan oleh Soo Young, Wali kelasnya. Siswa yang bunuh diri itu bernama Mary Ahn. Dan patung yang terletak di gerbang asrama dicurigai bisa hidup dan bergerak-gerak.
Dia sekamar dengan Jin Ri, So Hyun, Soo jung. Suatu hari dia melihat keanehan di kamarnya. Segala sesuatu bisa berpindah tempat. Jendela bisa terbuka sendiri. Karena itu, Ae bermaksud menyelidiki. Suatu ketika Ae terlambat masuk sekolah sementara dia harus membawa buku resep masakan. Dalam ketergesaan itu, tiba-tiba menemukan buku resep yang tidak biasa. Dia tahu bahwa buku milik Soo Jung itu bukan buku resep biasa, tetapi sebuah cara memasuki ke dunia lain. Buku itu pun di bawah ke kelas dan diberikan kepada Soo Jung.
Sesampainya di kamar, Soo Jung kemudian bercerita bahwa buku resep itu bisa menjadikan dirinya tidak terlihat. Itulah kenapa barang-barang di kamar bisa bergerak sendiri. Suatu ketika buku resepnya hilang. Dia mendapatkan surat yang berisi ungkapan bahwa buku resep itu diambil oleh orang misterius itu. Untuk mendapatkan buku tersebut, So Hyun dan Ae harus menuruti syarat orang misterius itu, yakni bertemu di kolam belakang asrama pukul 04:04. Mereka pun sudah mempersiapkan alarm. Pada jam dan tempat yang telah ditentukan, mereka datang. Kedatangan itu justru membawa masalah. Mereka terjebak di rumah kayu. Mereka tidak bisa keluar karena dihalangi orang misterius itu. Setelah berusaha dengan susah payah, akhirnya Ae dan So Hyun dapat keluar.
Pengalaman itu semakin membuktikan bahwa gedung sekolah itu memang angker. Keangkeranyang belum bisa dikuak adalah patung. Konon patung itu bisa bergerak. Mereka pun suatu malam mengintip patung tersebut, tetapi gagal membuktikan. Keangkeran yang ditemui adalah lukisan orang yang bisa hidup dan melirik kesana-kemari.
Pengalaman-pengalaman tersebut tidak membuat persahabatan mereka renggang. Menjelang ujian, mereka membuat rumah pohon sebagai tempat untuk belajar bersama., Ketika ujian berakhir, maka saat perpisahan pun tiba. Mereka berfoto bersama-sama, tetapi di situlah muncul sebuah misteri. Terdapat penampakan hantu dalam foto polaroid.
Lagu Koes Plus
dan novel None Ondel-ondel: Jalan-jalan Seru di Kota Jakarta
Lagu Koes Plus berjudul “Ke Jakarta” berkisah tentang kerinduan tokoh terhadap jakarta sebagai sebuah rumah yang nyaman. Baginya, di situlah sebuah rumah dengan kabut dan menjadi masa lalu yang tak terlupakan. Hal itu ada hubungannya dengan novel tentang Jakarta.
Ringkasan:
Novel berjudul None Ondel-ondel: Jalan-jalan Seru di Kota Jakarta adalah sebuah cerita tentang sebuah Kota jakarta. Cerita ini berada dalam rubrik penerbit yang berjudul Travela, yakni sebuah kisah tentang perjalanan di sebuah kota yang dilakukan oleh anak-anak. Novel ini menggunakan tokoh Hanifah Syafina, kelas 6 SD di Jakarta Pusat. Suatu kali, dia mengikuti lomba abang none untuk duta cilik parwisata dan dia menang. Dia mendapatkan kesempatan jalan-jalan mengenal Kota Jakarta. Lagi pula, Pak Gilang juga memberi tugas untuk merekam sejarah kota Jakarta. Bersama Ella, Hani akhirnya mengunjuingi tempat-tempat yang bersejarah, seperti Museum Fatahillah, museum, Bahari, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Wayang, Gedung Arsip Nasional, Tugu Jamm, Museum Seni Rupa dan keramik, Taman Mini, Stasiun Gambir, Monas, dan Taman ismail Marzuki. Dia jugamakan kerak telur dan soto Betawi. Cerita ditutup dengan cerita tentang jalan-jalan di Bundaran Hotel Indonesia kemudian dilanjutkan ke Mal Indonesia.
Lagu “What a Wonderful World” Louis Armstrong
dan Novel Sweety Pastello Macaron
Lagu “What a Wonderful World” Louis Armstrong berkisah tentang indahnya alam, persahabatan, dan segala pengalaman yang kita hadapi. Sebuah pengalaman tidak selalu buruk jika kita melihat dari perspektif lain.
Ringkasan:
Novel dan lagu ini sama-sama mengandung kata “wonderful”, yang artinya cantik atau indah. Novel Sweety Pastello Macaron mengisahkan tentang sebuah indahnya menu. Karya ini bagian dari rubrik Cookidz yang disiapkan oleh penerbit untuk tulisan yang menceritakan tentang masakan. Tokoh-tokoh adalah Ghita, Ghea, dan Vani. Cerita ini diungkapkan dengan gaya akuan melalui tokoh Ghita. Dimulai dari kegemarannya membeli minuman pada sebuah tokoh. Setelah ada diskon, toko tersebut tutup karena gedungnya mau dihancurkan. Setelah ditemukan, nama tokoh tertsebut adalah Macaron Wonderland. Mereka sama-sama menyukai kue macaron yang dijual di sana.
Sampai suatu ketika, mereka ditugaskan praktik bekerja selama 30 hari sebelum kelulusan. Ghita pun akhirnya menyasar tokoh Macaron Wonderful sebagai tempat latihan kerjanya. Di sana dia diajari cara membuat macaron. Beberapa kali kali gagal karena kecerobohan temannya, Ghita sendiri melakukan kecerobohan karena salah hitung saat mengembalikan uang kepada pelanggan sebesar Rp 5.000. Akibatnya, dia harus mengembalikan uang tersebut dengan cara mengambil dari uang saku. Tante Rani sebagai pemilik tokoh tersebut merasa senang dengan kehadiran mereka karena dinilai bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Setelah genap sebulan, Tante Rani pun membuat acara perpisahan dengan mereka. Hasil laporannya menjadi juara ketiga dalam laporan terbaik. Dia akhir cerita juga dilampirkan resep membuat kue makaron.
Referensi
Khairunnisa, Muthia Fadhila. 2014. Lovely Lovy. Bandung: Mizan Media Utama.
______________________. 2014b. Sweety Pastello Macaron. Bandung: Mizan Media Utama.
______________________. 2014c. None Ondel-ondel: Jalan-jalan Seru di Kota Jakarta. Bandung: Mizan Media Utama.
______________________. 2014d. Ghost Dormitory in Seoul: Patung Itu Tak Pernah Sendirian. Bandung: Mizan Media Utama.
Biodata Penulis
Saifur Rohman lahir di Jepara, 22 Maret, mengajar Program Doktor di Universitas Negeri Jakarta, Program Doktor Universitas Tanjungpura, dan Program Pascasarjana Unika Soegijapranata. Lulus S3 Ilmu Filsafat UGM pada 2009, S2 Ilmu Budaya UI, S2 Ilmu Psikologi Unika, dan S1 Ilmu Sastra Undip, dan sejumlah fellow¬ship nongelar di Timur Tengah (2003), Kuala Lumpur (2006), Singapura (2007), dan Beijing (2008). Buku yang telah ditulis dalam lima tahun terakhir, Teori dan Pengajaran Sastra (Rajagrafindo, 2015), Kritik Sastra Abad XXI (Ombak, 2014), Kelana (Grasindo, 2014), Follow Your Passion (Grasindo 2014) Dekonstruksi: Desain Penafsiran dan Analisis (2014), Hermeneutik: Desain dan Analisis Penelitian (2013), Pengantar Metodologi Pengajaran Sastra (Ar-Ruz Media, 2012), Mata Luka Sengkon Karta (2013), novel Kawin Kontrak (Grasindo, 2006).
KONFA 2015 Bersama Ibu Menteri Yohana Yembise
Jum'at, 6 November 2015, aku diundang ke rangkaian acara hari terakhir Konferensi Anak Indonesia (KONFA) 2015 dari Majalah Bobo dengan tema AKU DAN KOTAKU sebagai alumni delegasi KONFA tahun 2009. Pagi-pagi (boleh dibilang masih subuh), aku berangkat diantar mama nenuju Wisma PKK Melati Jaya, tempat dimana teman-teman delegasi KONFA 2015 menginap. Sampai di Wisma PKK Melati Jaya masih gelap, masih sekitar pukul 5 subuh. Sambil menunggu teman-teman delegasi KONFA 2015 siap, aku menyempatkan diri untuk berkeliling wisma, sekedar bernostalgia dalam memori 6 tahun yang lalu saat aku menjadi delegasi KONFA 2009. Di sanalah aku dan teman-teman delagasi KONFA 2009 juga menginap selama 6 hari 5 malam, tepatnya tanggal 25-30 Oktober 2009. ^_^
Setelah teman-teman delegasi KONFA 2015 siap, aku berkenalan dengan mereka dan menceritakan sedikit pengalamanku saat mengikuti KONFA 2009. Waktu itu aku menjadi peserta termuda, umur 8 tahun, kelas 4 SD. Aku bertemu dengan Nadia, Keisya, dan Hanna, penulis KKPK yang tahun ini menjadi delegasi KONFA 2015. Kami juga melakukan senam pagi yang dipimpin oleh kakak-kakak fasilitator. Keseruan dan tawa canda langsung memenuhi ruangan. ^_^
Sekitar pukul 6.30 kami berangkat ke Kebun Raya Bogor dengan bus. Karena tema KONFA tahun ini adalah AKU DAN KOTAKU, salah satu kakak fasilitator yaitu Kak Gita menjelaskan mengenai pemandangan dan tata kota selama perjalanan di tol. Kami mendengarkan penjelasannya sambil sarapan snack. ^_^
Sesampainya di Kebun Raya Bogor, kami langsung ke Griya Anggrek. Disana kami melihat-lihat berbagai jenis pohon dan bunga anggrek. Tentu saja tak lupa foto-foto bersama. Sementara itu, sebagian kakak-kakak fasilitator menyiapkan tempat untuk acara permainan mencari harta karun. Aku ikut dilibatkan di dalam salah satu pos, yaitu di Pos 2, pos rempah-rempah bersama Kak Novi. Ada 5 pos yang harus dikunjungi oleh teman-teman delegasi KONFA 2015, yaitu pos anggrek, pos rempah-rempah, pos aliran air, pos fossil, dan pos permainan tradisional. Di masing-masing pos, teman-teman delegasi KONFA 2015 diberikan penjelasan mengenai berbagai pengetahuan sesuai pos yang mereka kunjungi, kemudian diajak bermain bersama. Aku yang tadinya hanya berjaga di Pos 2 akhirnya ikut berkeliling ke pos-pos yang lainnya dan ikut bermain bersama. Jadi tambah pengetahuan, deh. Udah pasti juga seneng main sama teman-teman delegasi KONFA 2015. Seruuu! ^_^
Oh ya, di Kebun Raya Bogor, aku bertemu dengan Dinda, penulis KKPK dan alumni delegasi KONFA 2011 yang diundang juga. Dinda diantar mamanya (Tante Ade) dan adeknya (Jingga) ke sana. Senang banget ketemu Dinda setelah lama banget kami nggak ketemuan. Dinda pun langsung bergabung bersamaku mengikuti kegiatan teman-teman delegasi KONFA 2015. ^_^
Selesai bermain mencari harta karun, kami semua makan siang di Kebun Raya Bogor. Setelah itu kami langsung menuju Hotel Savero Golden Flower untuk melakukan acara penutupan. Acara penutupan ini dihadiri oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ibu Yohanna Susana Yembise. Di acara penutupan, teman-teman delegasi KONFA 2015 membacakan deklarasi mereka mengenai AKU DAN KOTAKU. Aku sempat berdiskusi dengan Ibu Menteri setelah acara. Aku menanyakan tentang kehidupan anak-anak dan remaja seusiaku. Aku masih penasaran karena cuma sebentar. Tapi aku senang karena Ibu Menteri berkenan menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Ibu Menteri juga berkenan untuk berfoto berdua denganku. Aku juga berfoto dengan salah satu delegasi KONFA 2015 bernama Hafidz yang merupakan seorang tunanetra. Hafidz satu-satunya peserta yang mengirimkan karya tulisnya memakai huruf Braille. Suara Hafidz juga bagus. Dia memimpin teman-temannya menyanyikan lagu "Jangan Menyerah". Semua terharu mendengarkannya karena Hafidz menyanyikannya dengan penuh penjiwaan. ^_^
Usai sudah seluruh rangkaian acara KONFA 2015. Selanjutnya sebagian besar peserta yang rumahnya di daerah Jabodetabek langsung pulang. Yang lainnya, yang tinggalnya jauh di kota-kota lain kembali ke Wisma PKK Melati Jaya karena akan pulang keesokan harinya. ^_^
Terima kasih kepada Tante Ani Kussusani Prihatmoko (Pemimpin Majalah Bobo) dan Kak Erna Johanna Ernawati yang udah berkenan melibatkan aku dalam acara yang super keren ini. Buat kakak-kakak fasilitator yang baik dan asyik. Juga buat teman-teman delegasi KONFA 2015 yang keren dan pintar. Alhamdulillah acara KONFA 2015 sukses. Selamat semuanyaaa. Semoga teman-teman delegasi KONFA 2015 dan teman-teman alumni delegasi KONFA tahun-tahun sebelumnya bisa menjadi pemimpin-pemimpin hebat di masa yang akan datang. Aamiin. ^_^
Eh, iya, di acara KONFA 2015 selain anak-anaknya yang reunian, ibu-ibunya juga. Ada Tante Ade, Tante Nadiah, Tante Fitha, Tante Aprilina, dan mamaku Shinta Handini yang sama-sama penulis. Kami sempat foto bersama ibu dan anak. Jarang-jarang ketemuan soalnya. Iya kan, Dinda Alya Namira Nasution, Jingga, Hana Alfazzahra Alhaddad, Keisya, Taman Hati, dan Nadia Shafiana R? Aku senang bertemu semuanya. ^_^
Terakhir tapi yang penting banget, aku berterima kasih banget sama sekolahku yang selalu mendukungku dan kegiatan-kegiatanku. Karena ternyata enggak semua sekolah mendukung kegiatan murid-muridnya. Kepada Kepala Sekolah SMA Labschool Jakarta Bapak M Fakhruddin dan wali kelasku Ibu Idah Aryani, makasih banyak untuk izinnya. ^_^
Foto-foto selengkapnya ada di FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.897584253670190&type=3
Sharing Menulis dengan Teman-Teman SMAN 62 Jakarta
Hari ini, Senin, 26 Oktober 2015, aku diundang untuk berbagi pengalaman dan proses kreatifku menulis dengan teman-teman di SMAN 62 Jakarta dalam rangka menyambut bulan bahasa. Jadi, hari ini aku izin untuk tidak masuk sekolah. Alhamdulillah sekolahku sangat mendukung aktivitas-aktivitas non-akademikku. Makasih Pak M Fakhruddin (Kepsek Labschool Jakarta), Bu Idah Aryani (walas X IPS-2), Bu Reni Re Hae (guru Bahasa Indonesia), dan guru-guru lainnya. ^_^
SMAN 62 memang sedang mengadakan acara lomba-lomba dan talkshow yang berkaitan dengan bahasa pada hari ini hingga tanggal 28 nanti. Salah satu kegiatannya adalah talkshow tentang menulis. Melalui Om Sam (dosen pasca sarjana UNJ) yang merupakan teman mamaku, aku diusulkan untuk mengisi talkshow menulis ini.
Seperti biasa, aku diantar oleh mamaku ke tempat acara di SMAN 62 Jakarta. Kami sampai di sana pukul setengah 9, padahal acara di jadwal mulai pukul 10. Kami menunggu di ruang wakil kepala sekolah sambil mengobrol dengan guru-guru di sana. Bu Komariah, salah satu guru menginformasikan bahwa ada 18 cabang perlombaan. Mulai dari debat, pidato bahasa Indonesia, Jepang, Perancis, hingga Stand Up Comedy. Saat menunggu giliranku sharing, aku juga sempat diwawancarai oleh teman-teman dari klub jurnalistik SMAN 62 untuk profil di majalah sekolah mereka.
Acara agak mundur sedikit karena banyak kegiatan dan lomba yang sedang berlangsung. Sekitar pukul 11, Bu Komariah (guru sekaligus pembina OSIS SMAN 62) mengajak kami menuju tempat acara, setelah mengkondisilan para peserta yang baru saja mengikuti lomba untuk bergabung disana. Aku, ditemani mamaku, dan Om Saefur (dosen pasca sarjana Fakultas Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta) menjadi pembicara pada talkshow bertajuk "Mengeksplorasi Bahasa Untuk Menggenggam Dunia". Pesertanya adalah perwakilan 5 orang anak dari tiap kelas mulai dari kelas 10 hingga kelas 12. Jadi jumlah pesertanya kira-kira ada seratusan.
Talkshow-ku kali ini berbeda dari talkshow-talkshow sebelumnya yang pesertanya adalah siswa-siswa SD. Di SMAN 62 ini pesertanya seumuran denganku, bahkan banyak yang lebih tua dariku. Ya iyalah. Yang ikut kan teman-teman dari kelas 10, 11, dan 12. :D Di talkshow ini, aku bisa lebih leluasa menjelaskan dan nyambung obrolannya. Antusiasme teman-teman pun perlu diacungi jempol. Di akhir sesi sharing dariku, mereka banyak yang bertanya.
Terima kasih atas kesempatannya, teman-teman SMAN 62 Jakarta. Semoga teman-teman bisa terus berkarya, serta semangat membaca dan menulis untuk bisa menggenggam dunia. ^_^
Foto-foto selengkapnya ada di FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.892856257476323.100002558717962&type=3
Sunday, October 25, 2015
Tampil di Acara BASA-BASI TransTV
Hari Senin, 12 Oktober 2015, siang-siang sebelum pulang sekolah, aku mendapat telepon dari mama yang tiba-tiba langsung menanyakan apakah aku bisa izin untuk tidak masuk sekolah keesokan harinya? Kata mama, hari Selasa,13 Oktober 2015, aku diundang ke acara BASA-BASI (BAhas SAna BAhas SIni) yang disiarkan LIVE di Trans TV, pukul 10.00-11.00. Berhubung saat itu sedang jam pelajaran wali kelasku, Bu Idah, aku langsung menyerahkan teleponnya pada Bu Idah. Alhamdulillah Bu Idah mengizinkan. Memang hari Selasanya sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar, hanya packing barang kelompok untuk Trip Observasi (5 hari di Desa Cibitung, Subang), kegiatan ELDEST (Entrepreneur Challenge Day) kelas 12, dan pembagian raport tengah semester.
Saat aku dijemput pulang sekolah, mama cerita kalau tiba-tiba dapat email undangan dari Tim Kreatif BASA-BASI Trans-TV. Mama katanya sempet bingung, tau dari mana email mama? Tadinya, mama ngira sih dari liat blog aku, terus liat blog mama dan tau email mama dari situ. Eh, terus mama liat ada notifikasi dari instagram mama. Tim kreatif basa-basi komen di salah satu foto di ig mama (@shintahandini) minta kontak mamaku yang bisa dihubungi. Di ig mama emang dicantumin email mama. Jadi kayaknya Tim Kreatif basa-basi tau dari situ, deh. ☺
Keesokan paginya, aku dan mama berangkat menuju gedung Trans TV. Sebelumnya, kami mampir ke sekolah dulu untuk mengantarkan barang-barang regu Trip Observasi yang menjadi tanggung jawabku ke sekolah. Adik-adikku diantar ayah ke sekolah supaya mereka nggak terlambat. Dari sekolah, aku dan mama langsung ke gedung Trans TV. Seperti yang sudah diduga, perjalanan menuju ke sana tidaklah mulus, bahkan bisa dikatakan macet parah. Apalagi gedungnya terletak di daerah perkantoran dan saat itu merupakan hari kerja.
Alhamdulillah, sampai juga di gedung Trans TV limas belas menit sebelum pukul 9. Aku dan mama disambut sama Kak Cecha yang sebelumnya udah menghubungi mama via email dan telepon. Sama Kak Cecha kami langsung dibawa ke ruang makeup. Di ruang makeup rame banget. Aku sempet bingung sambil liat-liat orang-orang yang ada disana. Eh, ada Kak Oki Setianadewi yang baru abis dimakeup. Aku taunya pas Kak Oki berdiri karena dipanggil buat shooting. Enggak tau juga sih buat acara apa. Hehehe. Ada Om Ferry Salim dan anaknya yang lagi dimakeup juga. Aku dan mamaku juga langsung dimakeup sama tim riasnya. Nggak berapa lama, dateng Tante Cici Panda dan ikutan langsung dimakeup. Acara akan dimulai tepat pukul 10. Kurang lebih kami menunggu selama satu jam untuk dimakeup sambil dibriefing oleh Kak Cecha.
Oh, iya, saat mama dihubungi Kak Cecha via telepon, kak Cecha bilang supaya aku membawa contoh-contoh buku yang aku punya dari aku bayi. Aku juga diminta bawa buku-buku karyaku, penghargaan-penghargaan yang aku raih, buku-buku yang jadi favorit aku, dan juga buku-buku yang saat ini sedang aku baca. Kebayang dong, banyak banget buku yang harus dibawa. Jadinya supaya semua bisa keangkut, pake travel bag gede deh bawanya. Saat kami semua dimakeup, tim kreatif BASA-BASI minta semua bawaan kami itu untuk ditata di ruang shooting.
Beberapa menit sebelum acara BASA-BASI dimulai, aku dan mamaku diminta untuk menuju ruang shooting. Begitu juga bintang tamu lainnya. Mereka adalah Om Ferry Salim dan Raoul (anaknya Om Ferry Salim), juga Pak Rudy dari komunitas Helping (komunitas yang menerima buku-buku untuk disalurkan ke daerah-daerah terpencil). Acaranya sendiri dibawakan oleh Tante Cici Panda dan Om Wendy Cagur. Temanya adalah “MY BOOK MY ADVENTURE”. Kami mengobrol banyak mengenai minat baca anak-anak Indonesia.
Suasana shooting asyik banget. Tante Cici Panda, Om Feery Salim dan anaknya, Om Wendy Cagur, serta Om Rudy baik banget. Dari saat waktu kami masih di runag makeup, kami udah ngobrol banyak. Jadi pas shooting udah nyambung dan akrab. Banyak yang diobrolin. Pas giliranku, aku ditanya awal aku jadi suka menulis hingga menerbitkan buku. Thanks banget to KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) yang udah jadi wadah anak-anak SD umur 7-12 tahun untuk menulis dan diterbitkan. Dari membaca KKPK lah, aku jadi pengin jadi penulis seperti penulis cilik yang aku baca buku-bukunya. Cerita-ceritaku ini ada di video tayangannya di bawah ini. ☺
Aku ingin mengucapkan terima kasih buat Trans-TV dan Tim Kreatif BASA-BASI untuk kesempatannya. Terima kasih juga untuk keluarga besar SMA Labschool Jakarta yang selalu mendukungku dalam kegiatan-kegiatanku. Kepada Ibu Indira Sunito (Ketua BPJS Labschool), Bapak M. Fachruddin (Kepala Sekolah SMA Labschool Jakarta), Bapak Suparno Sastro (Wakil KepSek bidang akademik), Pak Parno Supriatno (Wakil KepSek bidang kesiswaan), Bu Idah Aryani (wali kelas X IPS-2), Bu Reni Haerani (guru Bahasa Indonesia), dan bapak/ibu guruku lainnya, juga teman-temanku di SMA Labschool Jakarta (khususnya X IPS-2). Terima kasih juga buat Penerbit Mizan (Tante Sari Meutia dan kakak-kakak editor yang baik-baik). Tak lupa buat keluarga besarku, terutama Mama Shinta Handini, Ayah Faizal Adiputra, Dek Ariq, dan Dek Arza. Mohon doa dan dukungannya terus, ya. ☺
Link Youtube: https://youtu.be/64RcYfLIx8c
Foto-foto lengkapnya ada di FB-ku ini:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.892318307530118&type=3&pnref=story
Subscribe to:
Posts (Atom)