Sunday, March 13, 2016

Wawancara di RRI PRO 2 FM


Kamis, 11 Februari 2016, waktu ada jam kosong, aku dipanggil ke ruangan Pak M. Fakhrudin, kepala sekolahku di SMA Labschool Jakarta. Waktu itu, aku lagi mau nulis surat buat Lomba Menulis Surat POS Indonesia "Generasiku Melawan Korupsi" yang deadline-nya hari itu juga. Hehehe. Tapi, bisa nanti aku terusin waktu istirahat aja, deh. :D

Aku datang ke ruangan Pak Fakhrudin. Pak Fakhrudin bilang kalau ada wartawan radio yang mau wawancara tentang literasi. Dan aku diminta untuk wawancara mewakili sekolah sebagai penulis buku. Radio yang akan mewancaraiku adalah Radio RRI Pro 2 FM dalam sesi NGOPI alias NGObrol PagI. ^_^

Wawancara di RRI PRO 2 FM ini via telepon, kurang lebih 8 menit. Wawancaranya berupa obrolan ringan seputar buku-bukuku yang sudah terbit dan tips and trik menulis hingga diterbitkan. Selesai wawancara, pihak radio RRI PRO 2 FM mengirimkan email rekaman wawancaranya. Nah, berhubung di blog nggak bisa posting audio, jadilah dibikin video dulu dengan soundtrack wawancara ini. :D

Berikut video wawancaranya:



Terima kasih Pak Fakhrudin yang telah memberi kesempatan kepadaku mewakili SMA Labschool Jakarta untuk sesi wawancara ini.  Juga buat RRI PRO 2 FM.
Terima kasiiih. ^_^

Friday, February 19, 2016

Profilku di Majalah Bobo


Awal minggu ini, mamaku Shinta Handini dapat kabar dari Tante Nurhayati, kalau di Bobo No 45 yang terbit minggu lalu ada info untuk Bobo nomor depan kalau profilku akan dimuat disana. Ternyata mamaku juga dapat kabar dari Kak Ana yang mewancaraiku dari Majalah Bobo kalau profilku akan dimuat di Bobo No 46. Sengaja dimuat di nomor itu, karena temanya tentang dongeng. Pas karena aku adalah penulis cerita, gitu katanya. ^_^

Ceritaku sampai bisa dimuat profilku di Majalah Bobo ada di tulisan ini:
Sehari Dua Wawancara dan Pemotretan: Majalah Bobo dan Majalah Girls

Makasih banyak buat Tante Kusussani Prihatmoko (pimpinan Majalah Bobo), Kak Ana, Kak Sigit, dan kakak-kakak lainnya di Majalah Boho. Terima kasih telah memberikan kesempatan kepadaku untuk memulai berkarya di Majalah Bobo dalam Konferensi Anak Indonesia (KONFA) 2009, sehingga sampai detik ini menulis menjadi passion-ku. Aku berharap, nantinya aku bisa lebih banyak berkontribusi untuk Majalah Bobo, khususnya di acara KONFA yang telah ikut membesarkanku.
Terima kasih juga telah menuliskan cerita tentangku di Bobo No. 46 ini. ^_^


Ini penampakan profilku yang dimuat di Majalah Bobo No 46, yang terbit Kamis, 18 Februari 2016.
Foto-foto selengkapnya ada di Facebook-ku ini:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.947498352012113.1073742086.100002558717962&type=1




Sunday, February 14, 2016

Akademi Trainer – Enrichment Forum: Belajar Hal Tidak Biasa dari Orang yang Luar Biasa


Hari Sabtu, 13 Februari 2016, aku dan mama diundang ke acara Enrichment Forum – A Tribute to Us yang diadakan oleh Akademi Trainer. Acara ini diadakan di ballroom gedung Kompas Gramedia Majalah dan dihadiri oleh para alumni Akademi Trainer, baik Public Speaking for Teens, Wanna be Trainer, maupun Trainer Bootcamp N Contest.

Acara pukul 8.00 dimulai oleh Om Sulkifly yang jadi MC dengan berkenalan, karena pada dasarnya tujuan kami datang adalah untuk menjalin silaturahmi, berkolaborasi, dan karena dalam bisnis yang paling penting adalah relasi, kami di sini untuk membuat relasi satu sama lain.

Di acara ini, kami dipertemukan oleh tiga pembicara luar biasa dengan topik-topik yang tidak biasa. Pembicara pertama adalah Kak Hari Firmansyah dengan materinya tentang cara memberi respon yang berkelas atau high class response. Kami belajar ada berbagai tingkatan dalam merespon. Mulai dari basic, expected, desired, wow surprising, hingga unbelievable.

Banyak training yang mengajarkan cara berbicara di depan umum, namum jarang sekali yang membicarakan cara merespon dengan baik. Padahal respon yang baik akan kembali pada yang merespon.

Kak Harri juga menjelaskan tentang quality of life level berdasarkan respon yang kita berikan. Dimulai dari spiritual, yang paling basic, raganya hadir di tempat namun pikirannya kemana-mana, kemudian ada intelectual, dimana seseorang menyadari kelebihan dan kekurangannya serta memiliki kemauan. Yang ketiga adalah social, yaitu tingkatan dimana seseorang terlatih dan ingin terus berlatih. Keempat ada financial, saat seseorang sudah bukan hanya memikirkan dirinya sendiri, namun memikirkan kita. Dan level tertinggi adalah family, saat seseorang dapat memikirkan tentang dia, keluarganya, juga orang lain.

Ada beberapa prinsip yang Kak Harri tekankan. Salah satunya adalah “Response ability creates responsibility.”. Kemampuan merespon akan membuahkan tanggung jawab. Semakin baik kita merespon, semakin besar pula tanggung jawabnya, tentunya dalam hal yang baik. Ada juga satu quote yang disampaikan oleh Kak Harri, “There is no growth in comfort zone and there is no comfort in growth zone.” yang berarti tidak ada pertumbuhan di zona nyaman dan tidak ada kenyamanan di zona pertumbuhan. Selesai menyampaikan materi, Kak Herri juga sekaligus melaunching bukunya yang berjudul High Class Response.


Materi kedua disampaikan oleh Kak Canun Kamil, seorang konsultan pernikahan, yang menyampaikan materi tentang family life excelence, yaitu bagaimana membuat rumah tangga surga. Kak Canun dan istrinya telah menulis 5 buku, 4 ditulis sebelum menikah, dan yang terbaru ditulis setelah menikah. Kak Canun banyak bercerita tentang masalah-masalah yang biasa dialami dalam rumah tangga. Selain itu, beliau juga bercerita tentang cara membuat suasana rumah yang nyaman, karena keluarga adalah salah satu komponen terpenting dalam meraih kesuksesan. Tentu aku hanya dapat mengaitkan beberapa kasus dengan hidupku sendiri karena aku masih 15 tahun dan belum berkeluarga. Hahaha. Namun aku juga banyak belajar untuk bagaimana kedepannya bertindak mengenai hal itu.


Setelah materi dari Kak Canun, aku dan Hana diundang ke depan untuk menerima sertifikat sebagai ambassador Public Speaking for Teens tahun 2015-2017. Aku menerima sertifikat serta bercerita sedikit tentang kegiatan-kegiatanku sebagai seorang penulis. Sementara Hana diberi apresiasi karena dapat mengumpulkan 104 juta dalam 3 hari untuk acara sekolahnya hanya dengan modal berani berbicara. Sebenarnya ada beberapa ambassador lain, namun kebanyakan berhalangan hadir. Mudah-mudahan lain waktu dapat kumpul-kumpul, ya!



Sebelum beristirahat dan sholat, Om Sulkifly, sang MC meminta kepada para alumni yang telah menerbitkan buku untuk maju ke depan dan bercerita sedikit tentang buku yang ditulisnya. Mamaku Shinta Handini ikut maju dan aku gantian bertugas untuk foto-foto. Hahaha. Eh, tapi yang difoto diatas itu aku dapat dari peserta lain yang posting di Facebook. Jadi aku ada juga. Hehehe.

Selesai berfoto-foto, kami beristirahat dan acara akan dilanjutkan pukul 13.00. Di acara ini tidak disediakan makanan, melainkan kami membawa makanan sendiri untuk dibagi dengan peserta lainnya. Sayangnya, kemarin aku dan mama lupa membawa makanan. Soalnya udah buru-buru juga berangkatnya. Hehehe.

Oh iyaa, ada acara pengukuhan, penobatan, atau penganugerahan para alumni sebagai ketua associate dan affiliate. Juga ketua-ketua cabang yang mewakili Akademi Trainer di daerah-daerah. Ada dari Medan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah. Kalau nggak salah, ya! Soalnya aku kurang ngerti yang ini. Hahaha.

Acara dimulai kembali dan kali ini Om Jamil Azzaini membawakan materi yang bertajuk A Tribute: Sparring Partner mengenai cara menjadikan orang lain seorang bintang. Om Jamil menyampaikan kerugian orang egois, diantaranya, kebingungan yang tiada putus-putusnya, kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya, kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi, juga khayalan yang tidak berujung. Ada pula ciri manusia sejati, yakni bertumbuh dan berkontribusi. Jadi, manusia tidak boleh hanya bertumbuh untuk dirinya saja, melainkan harus berkontribusi untuk orang lain karena orang lain juga berhak atas nikmat yang diberikan oleh Allah.



Om Jamil juga memutar 2 video. Video yang pertama adalah cuplikan dari film berjudul Pay It Forward. Dalam cuplikan itu, seorang guru memberi tugas pada murid-muridnya untuk “Think of an idea to change the world and put it into ACTION.”. Murid-murid lainnya mengeluh, tetapi gurunya percaya mereka bisa. Si tokoh utama memiliki ide bahwa ia akan membantu tiga orang, dan tiga orang itu akan membantu tiga orang lainnya, begitu seterusnya dengan slogan “Pay it forward” yang artinya bayar kebaikan yang diterima dengan meneruskan kebaikan itu. Video kedua adalah chain domino reaction, sebuah balok berukuran 1 mm dapat merubuhkan yang lebih besar satu setengah kali lipat dari balok tersebut. Video itu sekaligus membuktikan sesuatu yang kecil akan menghasilkan dampak pada sesuatu yang lebih besar.

Para peserta diberi 4 lembar kertas yang berisikan tahap-tahap menjadikan orang lain seorang bintang. Tahapannya terdiri dari 4S:
  • STAR. Tentukan siapa yang mau dijadikan bintang. 
  • SYNCHRONIZE. Kuatkan dan fokuskan 4ON-nya. 4ON adalah vision, action, passion, dan collaboration. Keempatnya harus berkaitan agar tahap selanjutnya dapat lebih mudah dikerjakan. 
  • STRENGTHEN. Kita harus menguatkan 4On mereka dengan mencarikan coach, mentor, dan sparring partner. 
  • SUPPORT. Kita juga harus mendukung dengan berbagai cara. Seperti mendoakan, mejadi Mr. Connector atau penghubung dengan orang yang ahli di bidangnya, juga mengasah diri. 

Om Jamil lalu menyampaikan quote dari Jack Welch, CEO General Electric, yaitu:
“Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others.”
Materi Om Jamil ditutup dengan lagu "Pemimpin SuksesMulia" yang dibawakan oleh @MissHiday. Para peserta pun bernyanyi bersama. Namun, tidak lengkap jika sebuah acara ditutup tanpa foto bersama. Para peserta pun berfoto bersama narasumber.


Kemarin kami, khususnya aku telah bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang luar biasa dari berbagai bidang, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menjadi orang yang sukses mulia. Terima kasih untuk Akademi Trainer, Om Jamil Azzaini, dan Bunda Sofie Beatrix atas kesempatan untukku menjadi ambassador Akademi Trainer Teens. Semoga dengan ini, silaturahmi kita bisa terus terjaga. Aamiin.  ^_^


Foto-foto lengkapnya ada di Facebook-ku ini:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.944582222303726&type=1


Profilku di Majalah Girls


Alhamdulillah, senang banget rasanya profilku ada di Majalah Girls No 11 Tahun XI  yang terbit Desember 2015. Sayangnya, Majalah Girls ini terbit dalam tema Edisi Perpisahan. Bukan perpisahan karena akhir tahun, tapi benar-benar perpisahan karena merupakan edisi terakhir terbit. Jadi sebetulnya senangnya kurang lengkap, sih. Ya sedihlah pastinya karena mulai Januari 2016, Majalah Girls enggak terbit lagi.

Ceritaku bisa dimuat profilku di Majalah Girls ada di tulisanku ini:
Sehari Dua Wawancara dan Pemotretan: Majalah Bobo dan Majalah Girls .


Terima kasih buat Majalah Girls, terutama Kak Febhy dan Kak Nendra di sesi pemotretan, serta Kak Tina di sesi wawancara. Semoga sukses berkarya dan berkarier di tempat yang baru ya, Kak! ^_^

Oh, ya, sebelum dimuat di Majalah Girl, ternyata Kak Tina juga menginfokan profilku di Girls-Kidnesia, yang merupakan majalah online-nya. Link-nya ada di: Girls.Kidnesia.com



Foto-foto lengkapnya ada di Facebook-ku ini:
1. Di Majalah Girls: https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.926859624075986.100002558717962&type=3
2. Di Girls-Kidnesia: https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.934053630023252.100002558717962&type=3

Sehari Dua Wawancara dan Pemotretan: Majalah Bobo dan Majalah Girls


Hari Rabu, 13 November 2015, aku izin sekolah setengah hari karena ada janji dengan Kak Ana untuk wawancara dengan Majalah Bobo di Gedung Kompas-Gramedia. Kami pertama bertemu di penutupan dan malam puncak Konferensi Anak Indonesia 2015 setelah diperkenalkan oleh Tante Kusussani Prihatmoko, pimpinan Majalah Bobo. Cerita saat aku diundang sebagai alumni KONFA Bobo 2009 ke acara KONFA Bobo 2015 ada di tulisanku ini: KONFA 2015 Bersama Ibu Menteri Yohana Yembise. ^_^

Sekitar pukul 12.00 aku dan mama sampai di gedung Kompas-Gramedia. Aku sudah pernah ke gedung itu sebelumnya pada saat pembukaan Konferensi Anak Bobo 2009 saat aku menjadi salah satu delegasinya. Udah lama banget, ya!


Karena udah masuk waktu zuhur, mama menghubungi Kak Ana untuk mampir sholat zuhur dulu di mushola lantai dasar. Setelah itu, kami langsung ke kantor Majalah Bobo. Kami bertemu dengan Kak Ana dan langsung melakukan wawancara. Aku ditanya berbagai hal yang berkaitan dengan dunia menulis. Setelah itu, aku juga melakukan sesi foto yang nantinya dimuat bareng profilku di Majalah Bobo.

Selesai dari Majalah Bobo, kami menunggu di lantai bawah karena mama ingin bertemu dengan Tante Renny Yaniar yang bekerja di majalah Mombi. Tapi ternyata saat itu Tante Renny lagi cuti. Ya udah, mama memutuskan untuk pulang aja. Tepat saat kami keluar gedung menuju parkiran mobil, kami bertemu dengan Kak Irfan yang pernah mewawancaraiku untuk Tabloid Nakita . Kak Irfan pun mengajak kami untuk mampir ke ruangannya. Mama menyetujuinya. Oh ya, profilku di Tabloid Nakita, aku simpan di link ini: Di Tabloid Nakita.

Di ruangan Kak Irfan, di Tabloid Nakita, kami diperkenalkan dengan redaksi Majalah Girls. Waktu itu kami berkenalan dengan Kak Febhy dan Kak Nendra (fotografernya). Kak Febhy langsung tertarik untuk memuat profilku untuk Majalah Girls. Tapi karena saat itu wartawannya lagi tidak ada di tempat semua, jadinya aku diminta foto dulu aja. Sementara wawancaranya dilakukan menyusul lewat email oleh Kak Tina.


Wah, jadinya dalam sehari, aku melakukan wawancara dan sesi pemotretaan untuk profilku di dua majalah, yaitu Majalah Bobo dan Majalah Girls. Untungnya mamaku bawa baju cadangan. Jadi baju pemetretan untuk Majalah Bobo beda sama baju untuk pemotretan Majalah Girls.

Majalah Girls-nya sudah terbit akhir Desember 2015 untuk edisi perpisahan. Senang sekaligus sedih. Senang karena profilku ada di Majalah Girls. Sedih karena itu adalah edisi terakhir sekaligus perpisahan Majalah Girls. Mulai awal Januari 2016, Majalah Girls sudah tidak terbit dan beredar lagi. Profilku untuk Majalah Girls ada di tulisanku yang ini: Profilku di Majalah Girls.

Sementara profilku di Majalah Bobo akan ada pada edisi No 46 yang akan terbit Kamis ini, 18 Februari 2016. Jangan terlewatkan, ya, Teman-Teman!
__________________________

Nah, ternyata Majalah Bobo No 46 udah terbit.
Link-nya ada di tulisanku ini: Profilku di Majalah Bobo
Silahkan meluncur kalau mau baca. ^_^

Monday, February 8, 2016

Sharing di PSFT #4


Tanggal 21-23 Desember 2015 aku diundang ke acara Public Speaking for Teens (PSFT) batch 4 sebagai alumni PSFT 3 dan ambassador PSFT. PSFT merupakan acara liburan yang diadakan oleh Akademi Trainer, dimana kami diajarkan cara berani berbicara di depan umum, berbagi pengalaman, serta mengisi liburan bersama teman-teman baru dengan memfokuskan pada visi misi yang akan kami capai bagi masa depan kami. Acara ini diadakan di Bumi Gumati Hotel, Bogor, selama 3 hari 2 malam.

Hari pertama, Senin, 21 Desember 2015, aku datang diantar mamaku. Saat itu, teman-teman peserta PSFT 4 sudah mulai berkegiatan. Aku langsung bergabung bersama mereka. Kami diperkenalkan dengan rantai gajah, juga belajar mencari 4ON, yaitu Vision, Action, Passion, dan Collaboration untuk masa depan.

Selain itu, teman-teman peserta PSFT 4 juga melakukan tes sidik jari untuk menentukan mesin kecerdasan mereka. Aku sudah melakukannya saat ikut PSFT 3. Mesin kecerdasan adalah bagian otak yang dominan dalam beraktivitas. Ada 5 mesin kecerdasan, yaitu, Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting, yang disingkat menjadi STIFIn. Mesin kecerdasanku sendiri adalah Insting, yaitu otak bagian tengah. Orang Insting itu tidak memiliki kekurangan, namun tidak memiliki kelebihan, alias serba bisa. Meski begitu, perilaku kita bukan 100% berdasarkan mesin kecerdasan, ada beberapa hal lain yang dapat mempengaruhi, diantaranya jenis kelamin dan golongan darah.

Malam harinya, ada sesi bersama alumni dan ambassador. Aku menjadi salah satu pengisinya bersama Hana, alumni PSFT 2 yang berhasil mengumpulkan uang untuk acara sekolahnya hanya dengan modal pandai berkomunikasi, dan kak Izzan, alumni PSFT 1, produser film pendek yang sudah memenangkan banyak kompetisi. Aku sendiri, alumni PSFT 3 bercerita bagaimana aku dapat menemukan passionku di dunia menulis.

Hari kedua, Selasa, 22 Desember 2015, beberapa peserta PSFT 4 menghampiriku dan meminta aku untuk menjadi mentor maupun partner mereka dalam menjalani 4ON di sesi Collaboration. Ada Fikar, yang juga bercita-cita menjadi penulis, kemudian ada Padma, teman sekelasku yang ternyata ikut acara ini juga bersama adiknya. Aku dan Padma bahkan sudah mulai berdiskusi mengenai proyek-proyek kolaborasi yang akan kami buat.

Setelah belajar mengenai 4ON, peserta PSFT 4 meneriakkan visi hidup mereka serta visi satu tahun ke depan. Berbagai jenis visi dikemukakan. Ada yang ingin menjadi pengusaha sukses, guru, hingga hafidz Qur’an. Aku pun terkagum-kagum dengan visi mereka dan mengaminkannya. Semoga kita sama-sama bisa jadi orang yang sukses mulia, ya, kawan-kawan!

Malamnya, ada api unggun yang membuatku sangat senang, karena aku tidak dapat merasakannya saat mengikuti PSFT 3. Kebetulan, saat PSFT 3, sebelum dimulai api unggunnya, tiba-tiba turun hujan sehingga kami hanya dapat bermain dan bersenang-senang di bawah atap. Ditemani api unggun, peserta PSFT 4 menampilkan sebuah penampilan per kelompok. Ada yang bernyanyi, drama, puisi, dan sebagainya.

Hari terakhir, Rabu, 23 Desember 2015, pagi-paginya, para peserta membuat mind map presentasi mengenai 4ON mereka masing-masing, setelah itu mereka mempresentasikannya di depan orang tua dan teman-teman. Siangnya, aku dan mama pulang, menghindari kemacetan di sore hari.

Terima kasih kakak-kakak di Akademi Trainer, terutama Om Jamil Azzaini dan Bunda Sofi atas kesempatannya. Terima kasih telah melibatkanku di kegiatan hebat dan kerON ini selama 3 hari 2 malam (21-23 Desember 2015). Lagi-lagi aku mendapat ilmu yang tidak kudapatkan di sekolah, juga menambah teman, dan bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman peserta PSFT 4. ^_^


Foto-foto lengkapnya ada di:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.941804165914865.100002558717962&type=3

Sunday, December 27, 2015

Lomba Menulis Surat Pos Indonesia


Tema: Generasiku Melawan Korupsi

Persyaratan:
  1. Usia 13 - 17 tahun (SMP/MTs/SMA/MA/SMK Sederajat) 
  2. Mengirimkan fotocopy kartu Siswa 
  3. Format surat dengan komposisi sebagai berikut: Tempat dan tanggal lahir, alamat tujuan, salam pembuka, isi surat, salam penutup dan tanda tangan 
  4. Tulisan harus ditulis tangan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan tinta berwarna hitam yang terdiri dari 800 - 1000 kata ( 2 halaman kertas folio bergaris)
  5. Tulisan dapat ditujukan kepada siapa pun. Contohnya orang tua, sahabat, walikota bandung, gubernur jawa barat, KPK, dan lain- lain 
  6. Tulisan asli karangan sendiri dan tidak mengandung unsur pelecehan / penghinaan terhadap SARA 
  7. Tulisan belum pernah dipublikasikan dan diikutsertakan dalam lomba sejenis 
  8. Hasil Tulisan dikirim tanggal 11 Desember 2015 dan paling lambat tanggal 11 Februari 2016 ke PO BOX Kantor Pos Bandung dengan mencantumkan nama jelas, alamat, dan nomor telephone serta menggunakan perangko pos Rp 5.000,- , yang diteguhkan dengan cap tanggal pos terakhir dan dibawahnya ditulis "Lomba Menulis Surat" 
  9. Info lebih lengkap dapat mengunjungi kantor pos terdekat se-Jawa Barat atau media sosial Pos Indonesia 

Hadiah Lomba:
Total Hadiah 80 Juta Rupiah
Untuk 30 Finalis terbaik bisa mengikuti Pelatihan Menulis pada tanggal 9 Maret 2016 di Balai Kota Bandung Bersama : Tere Liye, Ginarti S. Noer, dan Habiburrahman El Shirazy

Info Lebih Lanjut:
Facebook: Pos Indonesia
Twitter: @PosIndonesia
Web: www.posindonesia.co.id



Sumber: http://www.posindonesia.co.id/



Lomba Menulis Cerpen Perhutani


Persyaratan Lomba Menulis Cerpen Hutan dan Lingkungan Perhutani Green Pen Award 3 Tahun 2016 

1. Peserta:
    Warga Negara Indonesia di Tanah Air maupun yang sedang berada di luar negeri
  • Pelajar SLTP sederajat (Kategori A), 
  • Pelajar SLTA & Mahasiswa (Kategori B), 
  • Umum, Guru, Dosen, Penulis/Pengarang (Kategori C). 
2. Lomba dibuka mulai tgl. 22 November 2015 dan ditutup tgl. 12 Februari 2016 (Stempel Pos/Jasa Kurir)
3. Judul naskah bebas, tema cerita: kehidupan dengan berbagai aspeknya terkait hutan, alam dan lingkungan hidup.
4. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, indah (literer) dan komunikatif.
5. Naskah adalah karya asli, bukan jiplakan, terjemahan atau saduran dan belum pernah dipublikasikan, disertai dengan dokumen pernyataan diatas materai.
6. Naskah panjangnya 5 s/d 10 halaman A4, diketik 1,5 spasi huruf Times New Roman ukuran 12 font, margin standar.
7. Naskah dicetak atau print out sebanyak 2 (dua) rangkap, file dimasukkan dalam CD atau Flashdisk
8. Peserta diperbolehkan mengirimkan naskah lebih dari 1 (satu) judul, maksimal 2 (dua) judul.
9. Naskah dimasukkan ke dalam amplop tertutup, tulis kategori A/B/C pada amplop, kirim ke:
Panitia Perhutani Green Pen Award 2016
Perhutani Residence, Jl. Gedung Hijau I No. 17, Pondok Indah,
Jakarta Selatan 12310. 
10. Naskah dilampiri:
  • Biodata lengkap; alamat, nomor telpon/HP, Email yang mudah dihubungi. 
  • Fotocopy Kartu Pelajar (Kategori A); 
  • Fotocopy Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa dan KTP bagi Mahasiswa (Kategori B) 
  • Fotocopy KTP/Paspor dan indentitas lainnya (Kategori C) 
  • Tulisan singkat tentang salah satu kegiatan Perum Perhutani, diketik rapi minimal 70 kata, diperbolehkan menambah foto apabila ada. 
  • Sumber informasi Situs Resmi www.perumperhutani.com atau sumber lain dengan menyebut nama sumber. 
11. Nama-nama pemenang akan diumumkan pada tgl 29 Maret 2016 melalui Situs: www.perumperhutani.com.
12. Panitia tidak memungut biaya apapun, tidak menunjuk perwakilan dan tidak melayani surat menyurat terkait penyelenggaraan ini.
13. Naskah yang dilombakan menjadi milik Perum Perhutani dan dapat diterbitkan untuk kepentingan Perusahaan.
14. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.


Hadiah

Hadiah Kategori A
Pemenang 1: Piala, Piagam dan Uang Tunai Rp 3.000.000,-
Pemenang 2: Piagam dan Uang Tunai Rp 1.500.000,-
Pemenang 3: Piagam dan Uang Tunai Rp 1.000.000,- 5 (Lima)
Pemenang Harapan: Piagam, Uang Tunai Rp 500.000,-

Hadiah Kategori B
Pemenang 1: Piala, Piagam dan Uang Tunai Rp 4.000.000,-
Pemenang 2: Piagam dan Uang Tunai Rp 2.000.000,-
Pemenang 3: Piagam dan Uang Tunai Rp 1.500.000,- 5 (Lima)
Pemenang Harapan: Piagam, Uang Tunai Rp 750.000,-

Hadiah Kategori C
Pemenang 1: Piala, Piagam dan Uang Tunai Rp 5.000.000,-
Pemenang 2: Piagam dan Uang Tunai Rp 3.000.000,-
Pemenang 3: Piagam dan Uang Tunai Rp 2.000.000,- 5 (Lima)
Pemenang Harapan: Piagam, Uang Tunai Rp 1.000.000,-


Sumber: http://perumperhutani.com/2015/11/perhutani-green-pen-award-2016/

Wednesday, December 16, 2015

Review Film "Bulan Terbelah di Langit Amerika": Menyatukan yang Terbelah


Menyatukan yang Terbelah

Selasa, 15 Desember 2015, aku dan mama diundang ke acara media screening dan premier film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Kali ini aku tidak hanya datang berdua dengan mama, melainkan bersama teman-temanku di SMA Labschool Jakarta yang juga mendapatkan tiket media screening, Syifa, Saqo, Putsas, dan Tasya.

Bulan Terbelah di Langit Amerika adalah sebuah film hasil produksi Maxima Pictures, disutradai oleh Rizal Mantovani, dan diangkat dari novel dengan judul yang sama oleh Kak Hanum Salsabila Rais dan Kak Rangga Almahendra. Adakah yang sudah familiar dengan nama di atas? Ya, kak Hanum dan kak Rangga juga yang menulis buku 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika adalah lanjutan dari 99 Cahaya di Langit Eropa dengan tokoh utama yang sama, Hanum yang diperankan oleh Acha Septriasa dan Rangga yang diperankan oleh Abimana. Saat melakukan bedah buku di Gramedia Matraman, aku bertemu dengan Kak Hanum dan Kak Rangga. Alhamdulillah sampai sekarang silaturahminya masih terjalin dengan baik sehingga aku bisa hadir dalam premier film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Terima kasih Kak Hanum dan Kak Rangga. :)


9/11 
New York, 11 September 2001. Tentu tidak ada yang merasa asing dengan tanggal tersebut. Hari dimana Presiden Amerika George Bush akan mengunjungi Brooker Elementary School do Florida. World Trade Center. Tempat jatuhnya korban dalam tragedi kemanusian. Inilah yang disebut sebagai agenda Tuhan.

Sejak hari itu, dunia memecah belah berbagai pihak, memupuskan kepercayaan. Sejak saat itu, bulan terbelah. Film ini telah membuat saya yakin dan makin percaya dengan Islam. Film yang mempersatukan bulan yang terbelah. Film yang telah membuat saya percaya bahwa dunia tanpa Islam adalah dunia tanpa kedamaian.


Discrimination Againsts Hijabers 
Dalam satu scene di film ini, ditampilkan bagaimana tidak sedikitnya orang yang melakukan diskriminasi terhadap kaum berhijab. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh tetangga dari Sarah dan Azima Hussein. Ketika Hanum mendatangi rumah Sarah dan Azima untuk melakukan wawancara, ia salah mengetuk pintu, dan ternyata orang yang tinggal di rumah itu adalah seseorang bernama Billy, yang nyawa anak lelakinya direngut oleh peristiwa 9/11. Billy, melihat Hanum memakai hijab, ia tidak tinggal diam. Billy menanyakan apakah Al-Qur’an mengajarkan Hanum untuk membunuh orang yang berbeda darinya, untuk membunuh anaknya dan ribuan orang lain.

Untungnya Azima datang dan mengajak Hanum masuk ke rumahnya, menjelaskan bahwa ia baru saja mengalami diskriminasi terhadap perempuan berhijab. Tidak hanya muslim, namun biarawati yang memakai penutup kepala pun mendapatkan diskriminasi yang sama.


Al-Qur’an, Batu Akik, hingga Kue 
Perkenalkan, Sarah Hussein, seorang anak yatim. Ayahnya menghadiahkan Al-Qur’an pada hari ulang tahunnya. Berpesan bahwa itu adalah hadiah terbaik yang dapat diberikannya. 8 tahun kemudian, Sarah memeluk Al-Qur’an itu, satu-satunya hal yang diingat olehnya tentang ayahnya. Ia memutuskan untuk tetap percaya pada ayahnya. Bahwa ayahnya bukan monster atau teroris seperti yang dibicarakan oleh teman-temannya.

Tak hanya Al-Qur’an, batu akik pun ikut masuk dalam film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Islam adalah agama yang mencintai damai. Islam tidak mengajarkan kebencian. Setiap batu akik mempunyai warna-warni yang unik, sama seperti manusia. Orang yang tidak patut dicontoh sama halnya seperti batu akik yang jelek. Namun orang-orang masih mau memakai batu akik itu untuk mewarnai hidup mereka. Kue juga merupakan hal yang meninggalkan kesan dalam film ini. Kue yang dibuat oleh Sarah untuk Billy. Kue sebagai perantara untuk terus bersilaturahmi. Kue yang menyadarkan Billy bahwa sebenarnya Al-Qur’an mengajarkan untuk berbagi.


Diss for Reporters 
Aku kebetulan juga berkesempatan untuk menghadiri press conference dari film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Pada saat itu, ada reporter yang menyampaikan bahwa ada adegan dalam film yang mengusik hati para reporter. Adegan itu adalah adegan saat Azima tahu bahwa Hanum berbohong untuk mendapatkan alamat dan nomor teleponnya. Azima berkata bahwa ia tidak percaya pada reporter maupun media. Reporter hanya mementingkan artikel, namun tidak mementingkan orang yang diwawancara.


Would the World be Better Without Islam? 
No, jika iya mengapa ada pahatan Nabi Muhammad sebagai salah satu “lawgiver” di Mahkamah Agung Amerika Serikat?
Islam mengajarkan kebaikan. Islam mengajarkan untuk berbagi. Islam mengajarkan untuk menyayangi dan mengasihi. Islam mengajarkan untuk memberi toleransi satu sama lain. Satu hal yang tumbuh di benakku, apa jadinya dunia tanpa Islam? Dunia tanpa Islam adalah dunia tanpa perdamaian. Perang dan perselisihan yang terjadi di dunia ini bukanlah disebabkan oleh agama, melainkan uang dan kekuasaan, seperti kata Rangga.


Nasib Stefan 
Dari semua tokoh yang ada dalam film ini, satu-satunya yang masih belum mendapat kejelasan di ending adalah Stefan. Stefan sudah bersama Rangga dan Hanum sejak 99 Cahaya di Langit Eropa. Kini ia sedang mengejar PhD-nya di New York dan tinggal bersama pacarnya, Jasmine. Namun, pada akhir film, ending Stefan masih buram. Salah seorang reporter menanyakan bagaimana kelanjutan nasib Stefan. Dan pemain Stefan menjawab bahwa akan ada kelanjutan filmnya tahun depan. Hmmm ….

*****


Setelah press conference, aku juga sempat bertanya pada Kak Rangga mengenai konten film maupun novel Bulan Terbelah di Langit Amerika. Mana yang fiksi dan mana yang diambil dari cerita asli. Kak Rangga menjawab bahwa yang fiksi tentu adalah adegan 9/11, dan untuk segala kebetulan yang ada di film itu memang sudah direncanakan jauh hari.

Hari itu aku mendapat banyak pengalaman dan pelajaran. Terima kasih untuk Kak Rangga dan Kak Hanum yang telah memberikan aku kesempatan untuk datang ke premier film terbarunya. Filmnya bagus banget. Do’akan agar aku dapat mengikuti jejak kakak berdua supaya novelku difilmkan. Sukses terus, ya, Kak!

Nah, pasti pada penasaran kan sama filmnya? Film ini akan diputer serentak tanggal 17 Desember 2015 di seluruh teater di Indonesia. Kabarnya, film ini juga akan tayang di Malaysia mulai minggu ketiga bulan Januari. Untuk yang sudah baca bukunya dan ingin melihat visualisasi dari buku yang dibaca, ayo tonton filmnya! Mumpung sudah mau libur akhir tahun, jangan lupa ajak keluarga dan teman-teman juga, ya!

*****

Foto-foto selengkapnya ada di FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.913537215408227.100002558717962&type=3


Saturday, November 28, 2015

Launching Buku "Arief Rachman GURU"


Selasa, 23 November 2015, aku izin sekolah setengah hari untuk menghadiri peluncuran buku ARIEF RACHMAN: GURU yang didasari oleh catatan Pak Ukim Komarudin, kepala sekolah SMP Labschool Kebayoran, yang bertempat di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Alhamdulillah aku diijinkan. Aku diberi tugas titipan oleh guru-guruku. Beberapa guruku pun ikut menghadiri acara peluncuran buku itu.

Buku itu menceritakan kisah-kisah Pak Arief Rachman sebagai guru, juga kiat-kiat beliau untuk menyemangati murid-muridnya selama mengajar, yang tentunya kudapatkan semasa aku belajar di Labschool, SMP maupun SMA. Mulai dari lagu Halo-Halo Labschool, Anak Labschool Keren-Keren, hingga lagu yang biasa kami lantunkan saat lari Jum'at.

Aku dan mama sampai di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sekitar pukul setengah 1 siang. Acara akan mulai sekitar pukul 1 karena diberi hidangan makan siang terlebih dahulu. Saat itulah aku mencuri start untuk meminta tanda tangan Pak Arief. Di sana aku juga bertemu dengan Bu Indira Sunito, ketua Badan Pengelola Sekolah (BPS) Labschool beserta jajarannya. Di tempat yang sama, aku bertemu dan dikenalkan oleh Pak Arief Rachman kepada Bu Mien R. Uno. Aku pun memberikan buku-bukuku pada beliau. Ada pula Bu Conny Semiawan, guru besar Universitas Negeri Jakarta.

Tempat dudukku juga rupanya bersebelahan dengan Pak Rosiman, guru biologiku saat SMP, dan Pak Ali Chudori, kepala sekolah SMP Labschool Jakarta. Sebelum acara dimulai, aku diajak berfoto dengan Pak Arief Rachman oleh Pak M. Fakhruddin, kepala sekolahku di SMA Labschool Jakarta.

Acara dibuka oleh Kak Alya Rohali sebagai MC. Pertama-tama kami semua menyanyikan lagu Indonesia Raya, diikuti penampilan tari piring dan saman oleh murid-murid SMP Garuda Cendikia yang berkebutuhan khusus. Aku kagum melihat mereka yang memiliki semangat untuk mengembangkan bakat untuk menutupi kekurangannya. Lalu ada sambutan-sambutan dari Direktur Esensi - Erlangga Group, Kak Adhi (anak kedua Pak Arief Rachman), dan Pak Ukim Komarudin (penulis atau pengumpul catatan-catatan mengenai Pak Arief Rachman). Selesai sambutan, ada penayangan film testimoni oleh guru-guru dan orang dekat dari Pak Arief Rachman yang dibuat oleh Pak Garin Nugroho.

Pak Taufiq Ismail, yang juga menghadiri acara itu membacakan 2 buah puisi tentang guru. Yang pertama adalah tentang guru-guru dalam kehidupan, yakni, Ibu, Ayah, dan buku. Yang kedua adalah tentang mencari sekolah yang mengajari rasa malu. Topik ini juga dibahas oleh Bu Indira saat peringatan hari guru di Labschool Jakarta tanggal 25 November 2015.

Sambil menunggu datangnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Pak Anies Baswedan, Kak Shahnaz Haque sebagai moderator mewawancarai Kak Deva, anak bungsu dari Pak Arief Rachman. Kak Deva bercerita ketika ia umur 2 tahun dan Pak Arief Rachman dipenjara. Kisahnya sangat mengharukan, aku pun juga merasa tersentuh. Setelah cerita dari Kak Deva, Pak Arief Rachman dan keluarga berfoto bersama. Tepat saat itu, Pak Anies Baswedan memasuki ruangan. Beliau meminta maaf atas keterlambatannya dan menceritakan pandangannya mengenai Kak Arief Rachman, begitu biasa beliau memanggilnya. Aku juga sempat memberikan beberapa bukuku untuk Pak Anies Baswedan.

Talkshow dan seminar pun dimulai. Kak Shahnaz Haque menjadi moderator dan ada Pak Arief Rachman, Pak Ukim, dan Pak Imam Prasodjo yang menjadi narasumber. Sebelumnya, kami juga disuguhi video mengenai guru di Indonesia. Pak Imam Prasodjo menjelaskan bagaimana pandangan Pak Arief Rachman mengenai pola pendidikan yang seharusnya diterapkan di Indonesia. Mulai dari character building, nation building, dan barulah knowledge and skill di posisi ketiga. Sayangnya, untuk saat ini sepertinya para guru lebih mementingkan apa yang seharusnya berada di peringkat ketiga itu. Beliau juga menceritakan kehebatan sosok Pak Arief Rachman yang bukan hanya guru, tetapi aktivis yang pernah masuk penjara, organisator yang hobi mengatur, pemimpin, da’i, dan imam yang memimpin do’a jenazah. Yang terakhir itu membuat para penonton tertawa. Pak Imam menceritakan bahwa Pak Arief Rachman memiliki hobi yang unik, yaitu datang melayat saat ada orang yang meninggal, dan memimpin do’anya. Tak hanya saat ada yang meninggal, Pak Fakhruddin ternyata punya kejadian unik yang dialami saat pernikahannya. Pak Fakhruddin bercerita bahwa karena kesibukkan Pak Arief Rachman, saat pernikahan Pak Fakhruddin 20 tahun yang lalu, beliau memimpin do’a bahkan sebelum acara dimulai karena harus menghadiri acara lain. Guru-guru di ruangan itu tertawa mendengar cerita itu.

Lalu, ada sesi tanya jawab. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya. Aku bertanya mengenai cerita-cerita yang kudapat dari adik-adik kelasku yang mengikuti Konferensi Anak Indonesia maupun Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2015 yang susah mendapat izin dari sekolah untuk mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu. Aku menanyakan bagaimana pendapat Pak Arief Rachman mengenai sekolah-sekolah yang kurang mendukung prestasi non-akademik anak didiknya. Namun sepertinya pertanyaan itu masih kurang terjawab. Tapi guru-guru bilang, aku bisa menanyakannya lagi di sekolah. Hahaha.

Setelah acara selesai, ada book signing dengan Pak Arief Rachman. Karena aku sudah mendapatkan tanda tangan beliau terlebih dahulu, aku pun berfoto dengan para narasumber. Mulai dari guru-guru, Pak Taufiq Ismail, juga Pak Imam Prasodjo. Aku sangat senang bisa menghadiri acara itu. Ditambah lagi aku menghadiri acara itu sebagai murid Labschool, yang selalu mendapat dukungan dan bimbingan Pak Arief Rachman. Semoga dengan diadakannya seminar dan peluncuran buku ARIEF RACHMAN: GURU, akan muncul sosok Pak Arief Rachman lain yang bisa meramaikan dunia pendidikan Indonesia, menginspirasi, dan memotivasi baik guru, orang tua, murid, maupun orang lain untuk terus berkarya karena seseorang akan diingat dari karyanya. Jika seorang penulis menghasilkan buku, seorang produser menghasilkan film, seorang guru akan menghasilkan murid-murid yang berprestasi dan berkarakter. Selamat Hari Guru. ^_^

Foto-foto lengkapnya ada di FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.905860642842551&type=3&pnref=story

Friday, November 27, 2015

Bertemu Wagub Jakarta di Pemilihan Abnon Buku 2015


Kamis, 19 November 2015, sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang karena harus membuat position paper untuk Model United Nation di SMAN 3 Jakarta. Aku bersama teman-temanku mengerjakannya di Lab Bahasa sekolah. Sejak duduk di bangku SMA Labschool Jakarta ini, aku sedang senang-senangnya berkegiatan. Nyaris hampir tiap hari pulang menjelang maghrib bahkan malam. Labschool sudah seperti rumah kedua bagiku dan teman-temanku. ^_^

 Sekitar pukul 6 sore, aku dan teman-temanku keluar untuk membeli minuman. Ketika kembali ke lobby sekolah, kami bertemu dengan Bu Reni dan Bu Choi, guru-guru SMA Labschool Jakarta. Kami diajak untuk ikut menonton Grand Final Abang None Buku 2015 di gedung Sasono Langgen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah. Aku segera menelepon mamaku untuk minta ijin, karena sebelumnya aku sudah SMS untuk minta jemput di sekolah abis isya. Mamaku mengijinkan dan mau menyusulku ke TMII. Berhubung teman-temanku sudah dijemput, akhirnya aku sendiri yang ikut untuk sekaligus mendukung kakak kelasku, Kak Maira Sashi yang merupakan None Buku Jakarta Timur 2015. ^_^

Aku, Bu Reni, dan Bu Choi bersama Bu Ina dan Pak Fakhruddin (Kepala Sekolah SMA Labschool Jakarta) berangkat menuju TMII. Tiketnya adalah membawa satu buku layak baca. Acara dimulai pukul setengah 8 malam. Para finalis menampilkan tarian Betawi. Ada juga parade Abang None. Setelah ke-60 finalis dari Jakarta Pusat, Utara, Barat, Selatan, Timur, dan Kepulauan Seribu melakukan parade, dipilihlah 15 besar finalis yang akan maju ke babak selanjutnya. Penilaian finalis sudah dilakukan sejak mereka dikarantina selama beberapa hari, dengan agenda kegiatan berupa mengikuti seminar, belajar, dan bermain bersama. Ke-15 finalis berparade dan ada sesi tanya jawab dengan juri. Setelah itu, ada penampilan hiburan dari personel grup band lawas, Koes Plus. Acara ini juga dihadiri oleh Bapak Djarot Saiful Hidayat, Wakil Gubernur DKI Jakarta. Lalu diumumkan 10 besar finalis yang masuk ke babak selanjutnya. Kak Sashi masuk ke dalam 10 besar. Mereka melakukan parade dan ada sesi tanya jawab dengan juri lagi. Sekitar pukul 10.30 malam, akhirnya waktunya untuk pengumuman penghargaan Abang None Buku. Ada penghargaan Abang None Berbakat, Abang None Persahabatan, Abang None Wakil 2, Abang None Wakil 1, dan Abang None Buku 2015. Kak Sashi tidak menang, namun masuk ke-10 besar pun sudah menjadi penghargaan yang luar biasa. Selamat untuk Kak Sashi. ^_^

Ketika acara selesai, aku, Kepala Sekolah SMA Labschool Jakarta (Pak Fakhruddin), Bu Ina, dan guru-guru (Bu Reni dan Bu Choi) berfoto di background Abang None. Saat berfoto, kami melihat Pak Djarot diwawancara para wartawan. Selesai wawancara, aku mendekati beliau dan memberikan beberapa bukuku. Alhamdulillah, support Pak Djarot sungguh luar biasa. Bahkan Pak Iwan dari Perpustakaan Nasional akan mengajakku dan SMA Labschool Jakarta bekerja sama untuk berbagai kegiatan yang sedang disusun. setelah itu, kami berfoto bersama. ^_^

Terima kasih atas apresiasinya, Pak Djarot, Pak Iwan, dan seluruh jajaran staffnya. Terima kasih yang luar biasa juga untuk Pak Fakhruddin dan guru-guru SMA Labschool Jakarta yang terus mendukungku. Doakan agar aku bisa terus berkarya. ^_^

Foto-foto lengkapnya ada di FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.903104933118122&type=3&pnref=story


Sunday, November 15, 2015

Sharing Menulis di Parade Literasi SASI


Sabtu, 14 November 2015, aku diundang talkshow menulis di acara Parade Literasi yang diselenggarakan oleh Sekolah Alam Bekasi (SASI) bersama Kak Arie Fajar Rofian. Ini ketiga kalinya aku mengunjungi sekolah alam setelah sebelumnya diundang talkshow menulis di Sekolah Alam Cikeas dan Sekolah Alam Depok. ^_^

Pukul 7.30 aku bersama mamaku dijemput panitia. Lumayan jauh juga perjalanannya. Sampe SASI sekitar pukul 8.40. Kami disambut oleh Kak Abi Bhadra Maulana dan Kak Azis yang mengundangku, juga kakak-kakak panitia lainnya. Saat itu sedang berlangsung penampilan teman-teman SASI per kelas di atas panggung. ^_^

Setelah beristirahat sejenak sambil mencicipi snack yang disediakan, aku dan mamaku diajak berkeliling SASI oleh salah satu kakak panitia (aduh, aku lupa namanya. hehehe). Seperti sekolah alam pada umumnya, SASI pun sama berada di area yang luas yang sebagian besar adalah tanah yang ditanami berbagai jenis pohon buah-buahan. Kelas-kelasnya pun terdiri dari saung-saung bertingkat. Ada perkebunan dan peternakan yang lumayan luas di halaman belakangnya. Ada kolam beternak ikan juga. Yang paling asyik adalah area outbond yang luas dan tempat bermain flying fox. Wuiiih ... asyik ya! ^_^

Karena sedang ada acara Parade Literasi, maka di depan tiap kelas yang berupa saung-saung itu ada rak pameran buku. Disana dipamerkan buku-buku karya teman-teman SASI yang mereka tulis, gambar, bahkan cetak sendiri. Ada yang berbentuk buku cerita komik, picturial book, boardbook, bahkan novel. Aku sempat mengintip beberapa karya teman-teman SASI. Kereeen! ^_^

Acara talkshow dimulai sekitar pukul 10.00 setelah teman-teman SASI tampil mempertunjukkan kebolehan mereka menyanyi, menari, dan bermain drama. Aku tampil bersama Kak Arie. Kami berdua bergantian sharing dan menceritakan proses kreatif menulis. Saat giliran sesi tanya jawab, banyak orangtua yang bertanya. Kemudian ada 2 anak yang maju ke depan untuk menceritakan hasil karya tulis mereka. Keduanya mengingatkanku tentang cerpen-cerpenku ketika masih seumuran mereka. ^_^

Tak terasa, sejam sudah acara talkshow menulis berlangsung. Aku dan Kak Arie mendapatkan kenang-kenangan dari SASI. Setelah itu kami berfoto bersama guru-guru di sana. Makasih telah mengundang kami. Semoga acara ini bisa terus memotivasi teman-teman SASI untuk terus menulis. Aamiin. ^_^

Foto-foto lengkapnya ada di Facebook-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.900298283398787&type=3&pnref=story


Video Testimoni untuk KONFA 2015


Menjelang Konferensi Anak Indonesia (KONFA) 2015 kemarin, tepatnya berlangsung 3-6 November 2015, aku diminta membuat rekaman video oleh Tante Ani (Pimpinan Majalah Bobo).
Rekaman videonya berupa testimoni saat aku mengikuti kegiatan KONFA 6 tahun yang lalu, yaitu saat aku menjadi delegasi KONFA 2009. Waktu itu aku mewakili DKI Jakarta dan menjadi peserta termuda (8 tahun, kelas 4 SD). Tidak hanya testimoni mengenai kegiatan KONFA 2009 yang pernah kuikuti, Tante Ani pun memintaku untuk menceritakan kegiatan-kegiatanku sekarang. Makasih, Tante Ani. ^_^

Oh, ya, cerita tentang KONFA 2015 itu sendiri udah aku tulis disini. Silakan aja kalau mau dibaca-baca. Makasih. ^_^

Ini video testimoniku untuk KONFA 2015. ^_^