Sunday, May 28, 2017

Thia's Journey in the US: It's New York!

Dream big, People. Dream big. Aku juga nggak kebayang sebelumnya. Anak rumahan yang ke mall aja jarang, tiba-tiba bisa ngeliat Patung Liberty? Bisa mejeng di Times Square? At the age of 16? Who would have thought? Selama aku di US, here’s what I thought the most, “Consider this a blessing. Nggak semua anak umur 16 tahun pernah menginjakkan kaki di negara adikuasa ini,”. What I did was, I tried to cherish every moment and make the most out of it.

DAY 1
After a long flight, akhirnya sampai juga kami di John F. Kennedy International Airport, New York. Setelah melalui beberapa pengecekan, kami keluar dari bandara, disambut dengan udara dingin. It wasn’t snowing that day. Beberapa dari kami “sok-sokan” ingin “mengetes” seberapa dingin udara di New York dengan tidak memakai coat ketika menyebrang dari luar bandara menuju bis.

Ya, sudah ada bis putih yang menyambut kami dan akan mengantarkan kami selama 14 hari ke depan, ditemani dengan dua orang, Uncle Andy as the bus driver, dan Kak Doni sebagai pemandu. Tujuan pertama kami adalah sebuah restoran Tiongkok untuk mengisi energi kami. Santapan pertama masih yang lidah Asia dulu, lah …. Hahaha

Jepretan sebelum sibuk dengan gadget masing-masing

Restoran tersebut terletak di lantai atas, dimana ketika kami memasukinya, bunyi dentuman piring terdengar di tiap penjuru restoran. Para pelayan gesit mengantarkan pesanan ke meja masing-masing. Alhamdulillah, kami akhirnya mendapat akses wifi. Ya, semenjak dari bandara, belum ada yang bisa menghubungi keluarga di Indonesia karena kendala sinyal. Kami pun berencana ingin membeli kartu seluler lokal karena tarifnya lebih terjangkau daripada roaming. Serentak, tiap meja saling memberi tahu password wifi dan sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.

Aku sendiri langsung menelepon mamaku. Meski itu adalah jam makan siang di New York, ada 12 jam perbedaan dengan Jakarta. It was almost midnight. Aku juga mengabari beberapa temanku. Sampai akhirnya makanan datang dan kami sibuk makan sambil sesekali melirik ponsel.

Setelah mengisi perut, kami menuju ke Manhattan Bridge, salah satu jembatan di New York yang dapat dilewati oleh pejalan kaki. Meski itu tengah hari, banyak warga yang berolahraga seperti bersepeda atau jogging. Sementara para wisatawan asik memotret keindahan view dari jembatan. Kami juga dapat melihat Brooklyn Bridge di seberang, salah satu jembatan tertua di US

Group pic in Manhattan Bridge

Puas berfoto di destinasi pertama, bis putih bertuliskan Mr. BMJ tersebut membawa kami menuju tempat kapal feri yang dapat mengantar kami ke Pulau Liberty. It is only the first day and we’re visiting the liberty!? Itulah yang terbesit dalam pikiranku ketika kami dibagikan tiket untuk menaiki kapal feri ke Liberty Island. Sebelumnya, ada pengecekan barang-barang yang kami bawa. And we experienced it in almost every destination in the next 14 days.

Most of us naik ke top deck untuk berfoto dengan latar belakang Manhattan skyline. And honestly I never thought I would see the Liberty up close this soon in my life. Sudah asik berfoto dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit, tiba-tiba patung Liberty sudah dapat dilihat dari dekat.

This one looks decent

Kami turun dari kapal dan diberi waktu bebas untuk berkeliling selama kurang lebih satu jam. Foto-foto is a must. Meski udara dingin dan cukup membuatku menggigil, aku tetap menikmati hariku di sana.

Usai berkeliling, kami kembali menaiki feri ke Manhattan. Sebelumnya, feri sempat berhenti di Ellis Island, pulau yang dulu merupakan pusat pengurusan imigrasi. Teman-teman juga bercerita bahwa topik Ellis Island pernah dijadikan wacana dalam tugas Bahasa Inggris.

Setibanya kami di Manhattan, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, yaitu Wall Street. Bukan, bukan tempat kursus. Hihihi. Wall Street adalah nama daerah yang menjadi pusat perdagangan bursa saham dan perdagangan lainnya. Setiap minggu, akan ada tokoh dunia yang memukul gong tanda dimulainya perdagangan dunia.

Sama palang Wall Street. Hehe.

Langit mulai kelam dan diselimuti awan kelabu. Kami berjalan menyusuri tepi jalan dimana warga New York dengan gesit berlalu-lalang. Di tengah perjalanan, aku juga melihat Trinity Church, salah satu landmark di NYC. We stayed for a good 5 minutes in Wall Street, since the sky’s getting darker and rain starts falling.

Dari Wall Street menuju bis, kami sempat berhenti sejenak di September 11 National Memorial, sebuah air terjun buatan di lokasi tempat dulu gedung World Trade Center berdiri. Diiringi suasana langit yang kelam, rintik hujan mulai berjatuhan, dan derasnya air yang jatuh, aku melihat satu persatu nama korban yang tertera di sekeliling memorial.

9/11 Memorial

Setelah cukup lama berjalan kaki, kami pun sampai di bis dan kembali disambut oleh Uncle Andy. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 5 sore, kami menuju restoran untuk makan malam. Ternyata, restoran tersebut menyediakan makanan Indonesia. Ya, namanya juga baru hari pertama. Kami disuguhi soto, sate, and some other Indonesian cuisine. Though it’s not as good as what we usually have, karena Indonesia terkenal dengan ribuan bumbunya.

Bis melaju menuju hotel sembari mencari toko seluler yang menjual kartu perdana lokal. Beberapa toko sudah dicek, namun tidak ada yang memiliki stok untuk 31 orang. Hingga akhirnya, ada salah satu toko AT&T Mobile yang menyediakan kartu berisi paket data untuk sebulan. Kami mengantri di toko tersebut untuk membeli dan memasang sim card baru.

Kami sampai di hotel sekitar pukul 7. Hampton Inn Manhattan Times Square North. Yep, that’s where we’re staying for 3 nights. Aku sekamar dengan Aca dan Padma, yang merupakan teman sekelasku, juga Miss Nuniek. Just as I opened my luggage, tiba-tiba Aca dan Padma berencana untuk jalan-jalan sendiri, mengingat saat itu belum terlalu larut. Aku yang berniat mengganti pakaian pun langsung menutup koper dan menyambar coat-ku yang sudah digantung. Di lobi, sudah ada the boys yang bakal ikutan ke Times Square.

Berbekal panduan Google Maps dan Ariqo yang sudah mempelajari New York dari kakaknya, aku, Aca, Padma, Ariqo, Huda, Oliver, Satria, Hanif, dan Edra berjalan kaki ke Times Square. It wasn’t that far from our hotel, but heck I’m freezing. Apalagi tanganku tipe-tipe yang gampang kedinginan. Kena AC kelas aja kukuku sudah berubah warna jadi ungu. Gimana kena suhu winter yang hanya 1 digit? Hahaha.

Flashy animated billboards everywhere, Times Square proves us that New York is undeniably the city that never sleeps. I kept saying, “Whoa …,” as we walked to the center of Times Square. I even thought, “So this is the Times Square I’ve been watching in movies,”. Moreover, we passed by one of the broadway theaters. Holy. Fricking. Broadway!!! Norak, ya? Iya, maklum, ya. But hey, I bet some of you will have the same reaction as me when you visit Times Square.

Happy me is happy

Kami pun terbagi menjadi dua tim, the girls and the boys. The boys went to Foot Locker, I guess? Yea, boys. Sementara aku, Aca, Padma, dan Ariqo masuk ke dalam Disney Store. The store was just full of cute stuffs. Who doesn’t love Disney merchandise? Nope, not me. I feel satisfied even when I’m just looking at it. Di langit-langit escalator-nya, terdapat lampu-lampu yang digantung. It was utterly cute!

Keluar dari Disney Store, kami masuk ke Forever 21 yang kebetulan berada di sebelah. Most of the stuffs are similar to the ones they sell in Indonesia, tho. So there’s that. Setelah itu, we just casually stroll around Times Square.

Ternyata, Fatia, Gabby, David, dan Johan menyusul ke Times Square. Aku dan Ariqo menemui mereka, sementara Aca dan Padma menemui the boys. Di tengah-tengah Times Square, terdapat banyak badut, yang ternyata jika kami diminta oleh badut itu untuk berfoto dengan mereka, kami harus bayar. So, yeah, be careful of clowns when you visit Times Square! 

We also saw a couple (perhaps?) bickering (and even fighting). All those screams, bad words, the fight, we saw it. And that made me realize I’m currently in the US.

Sebelum kembali ke hotel, kami menyempatkan diri membeli pop cakes untuk Hanni dan Diedra yang berulang tahun keesokan harinya, tanggal 23 Januari. Oliver dan Huda kembali ke hotel duluan karena Huda mimisan (as I remember, he doesn’t wear coat?). Oh ya, funny thing is that ada anak HMUN yang ulang tahunnya tanggal 21, 22, dan 23. 21 Januari, saat berangkat, adalah ulang tahun Oliver. 22 Januari, ketika kami di Dubai dan sampai di US, adalah ulang tahun Yega dan Edra (yea, they celebrated their birthday twice), dan tanggal 23-nya adalah Diedra dan Hanni. Happy belated bday, y’all. LOL.

And … the adventure didn’t stop there. Ketika the boys udah ngacir duluan ke hotel, the girls decided to go for a pizza … at night. Di sini mah puas-puasin aja dulu, dietnya baru di Indonesia. Hihihi. Sebetulnya ada pizza di dekat hotel, but we didn’t know whether it’s still open since it’s almost 10 PM. So we stopped by at Famous Amadeus Pizza. By the time I wrote this my mouth is already watering. Unfortunately, the “big slices” sisa dua, if I were not mistaken, Aca dan Ariqo lah yang memakan potongan besar tersebut. Y’know, the typical NYC pizza, thin yet the size is twice as big as the ones in Indonesia. The rest of us, aku, Gabby, Fatia, dan Padma memesan “small slices” which turns out bigger than what we expected. Are we satisfied? Definitely.

Kami kembali ke hotel, realizing that restoran pizza yang tadi kami perdebatkan ternyata masih buka. Hahaha. But we’ll save that for tomorrow.

DAY 2 
Pagi-pagi, sekitar pukul 7, kami sudah berkumpul di lobi hotel mengenakan batik Labschool. Hari itu kami mengunjungi United Nations Headquarters dan Perwakilan Tetap Republik Indonesia. I didn’t bring any long john just like my friends, sehingga aku hanya mengenakan satu lapis pakaian dibalik coat-ku. Untungnya badanku cukup tahan dingin, hanya saja telapak tanganku tidak kuat. Hihihi.

Bis Uncle Andy sudah menunggu di depan hotel. I had fun looking at the view. Gedung-gedung pencakar langit di sisi kanan dan kiri, lalu lintas yang tidak terlalu padat because New Yorkers prefer walking or taking the subway. Oh, and one thing that caught my attention is, di gedung-gedung tersebut, mereka mengibarkan bendera Amerika Serikat. Shows what we call nationalism.

Perjalanan ke Kantor PBB tidak terlalu lama, mungkin sekitar 15 menit. Kami langsung turun dari bis, berfoto-foto sembari menunggu Kak Doni mengambilkan kami tiket masuk. We’re here for a tour.

Di depan United Nations Headquarters

Sebelum masuk, dilakukan pengecekan barang di sebuah ruangan tertutup. Ketika keluar dari ruangan tersebut, kami harus berjalan lagi untuk masuk ke gedung utama. Terdapat patung-patung di halaman kantor. Ada patung bola dunia, dan sebagainya, yang merupakan hadiah dari berbagai negara. Aku meminta tolong salah seorang teman (was it Diedra? I forgot) untuk memotretku di depan salah satu patung. But suddenly, the wind blows, strongly. To the point aku juga tertahan untuk menerjang angin dan masuk ke gedung. Teman-teman yang tadinya juga masih ingin berfoto-foto, langsung berlarian masuk.

Kami menunggu giliran tur sambil melihat-lihat lukisan yang terpajang di ruangan. Ada tentang perang, kemanusiaan, dan sebagainya. Karena jumlah kami terlalu banyak, kami dibagi dalam 2 kloter. Aku masuk kloter kedua dengan pemandu yang berasal dari Korea. She’s pretty and nice!

Tur kami dimulai dengan perkenalan tentang PBB, latar belakang terbentuknya, and other general stuffs you might find on books or internet. Tujuan pertama kami adalah United Nations Security Council Chamber atau Ruang Dewan Keamanan PBB tempat para dewan berkonferensi. I love the fact that the chairs for the delegates are blue. And there are red chairs for the observers. Karena hanya ada 15 negara yang tergabung dalam Dewan Keamanan, ruangannya terlihat jauh lebih leluasa. Setiap dua tahun, ada pergantian 10 negara yang menempati kursi-kursi di Dewan Keamanan, sementara 5 negara lainnya adalah negara permanen yang menang dalam peperangan. Di sisi kanan dan kiri ruangan terdapat ruangan-ruangan kaca tempat para penerjemah berbagai bahasa menerjemahkan konferensi secara langsung, juga untuk para jurnalis meliput. Di sisi depan, terdapat lukisan yang melambangkan perdamaian. Hm …, let me try my best to explain this one. So, basically, below, there are people dying with darker colors. And above, there’s a more sustainable living. The mural shows us that the UNSC is trying to achieve peace for the world.

United Nations Security Council Chamber

After that, we moved to the Trusteeship Council Chamber. Ada yang sudah pernah mendengar nama tersebut, sebelumnya? Dewan Perwalian, atau Trusteeship Council memang sudah tidak aktif semenjak tahun 1994. Tugasnya adalah untuk melakukan perwalian terhadap daerah-daerah yang diawasi oleh PBB. Kami tidak memasuki ruangannya, hanya melihat dari pintu.

Kami langsung menuju United Nations Economic and Social Council Chamber. What makes these chambers unique is that they have their own characteristics. Kalau tadi ada ruang UNSC yang memiliki mural tentang mencapai perdamaian, ruang ECOSOC memiliki nuansa orange. Yang menarik adalah, arsitektur ruangan tersebut sengaja membiarkan langit-langit di bagian belakang ruangan tersebut seperti pekerjaan yang “tidak selesai”, sementara bagian depannya sudah tampak megah. This shows that our world is developing for a better future. Sama seperti ruangan konferensi PBB yang lain, terdapat ruang kaca di sisi kanan dan kiri untuk penerjemah dan jurnalis.

United Nations Economic and Social Council Chamber (see the difference in the ceiling?)

Ruangan ketiga yang kami kunjungi adalah United Nations General Assembly Hall, yang mungkin paling familiar di antara ruangan lainnya karena paling sering muncul di media. Yap, ruangan besar bernuansa keemasan inilah tempat dimana para pemimpin dunia berkonferensi. Perwakilan 193 negara tersebut duduk sesuai abjad. Namun, abjad A tidak terus menurus duduk paling pojok depan. Terkadang, misal, abjad N duduk paling awal, dan yang lainnya mengikuti. Di sisi depan, terdapat dua layar besar dan satu logo PBB berwarna emas, serta podium. Di belakang para perwakilan negara, terdapat kursi-kursi untuk perwakilan dewan PBB lainnya. Pada sisi kiri dan kanan bagian belakang, terdapat mural abstrak yang melambangkan unity in diversity.

United Nations General Assembly Hall

Di sela-sela tur, kami diperlihatkan mural-mural lainnya yang terdapat di sekitar kantor pusat PBB. Ada juga landmines yang banyak dipakai di negara-negara konflik, sisa-sisa bom Hiroshima dan Nagasaki, juga beberapa benda lain seperti alat-alat perang.

Salah satu mural di United Nations Headquarters
Macam-macam landmines

After finishing the tour, I thanked the guide in Korean and told her that I’m currently learning the language. She answered me and said that my pronunciation is good. Ahaha, why, thank you. Kami masih ada waktu di PBB sebelum beranjak ke tempat lain. Aku memutuskan untuk membeli pin berlogo PBB yang pada akhirnya kusematkan di jas OSIS-ku

With the guide!

Oh, meskipun terletak di New York, kompleks United Nations Headquarters ini adalah teritorial khusus yang dimiliki oleh 193 negara. Kak Doni berkata bahwa kami bisa mendapatkan stempel khusus di paspor kami dari PBB. Unfortunately, the service doesn’t exist anymore. Selain pin, aku juga membeli perangko peringatan World Poetry Day tahun 2015. Lumayan untuk koleksi. Hihihi.

Destinasi selanjutnya adalah Perwakilan Tetap Republik Indonesia, atau Permanent Mission of Republic of Indonesia to the United Nations. Bukan, PTRI bukanlah duta besar, melainkan perwakilan Indonesia untuk PBB. Orang-orang PTRI inilah yang ikut serta mewakili Indonesia dalam konferensi-konferensi di PBB. Kantornya pun tak jauh dari kantor pusat PBB, jalan kaki juga sampai

Di PTRI

Kami disambut oleh first secretary PTRI, Ibu Indah. Juga deputy permanent representative, Ibu Ina. Selain mengetahui lebih lanjut mengenai struktur dan tugas PTRI, kami melakukan dialog interaktif yang merujuk kepada persiapan untuk Harvard Model United Nations.

... Perpustakaan di PTRI

Ternyata, untuk menjadi duta besar atau perwakilan Indonesia di PBB tidak harus jurusan Hubungan Internasional, lho. Seingatku, Ibu Indah merupakan lulusan sastra Perancis. Mereka bercerita bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang paling ditunggu-tunggu negara lain untuk angkat bicara dalam konferensi.

Mengunjungi PTRI rasanya seperti belajar PKn di luar kelas. Told ya, belajar itu tidak harus terus-terusan duduk mendengarkan materi dari guru. Luckily, kami mendapatkan penjabaran materi dari orang PTRI langsung yang kebetulan berhubungan dengan materi PKn kelas 11, yaitu Hubungan Internasional.

Setelah bincang-bincang seru, kami disuguhi santap siang. Lagi-lagi ketemu sama makanan Indonesia. Yeay! Apalagi makanannya bakso. Wah, asik. Sebelum meninggalkan PTRI, tentunya kami menyempatkan diri untuk foto-foto di depan gedung, meski anginnya sangat kencang. Dan lagi-lagi, sebelum naik ke bis, aku dan beberapa temanku harus menerjang angin kencang yang tiba-tiba berhembus. Hahaha. Rambutku sudah makin nggak karuan saat itu.

See how windy it was!?

Usai mengunjungi PTRI, saatnya belajar hal baru tentang laut, pesawat, dan luar angkasa di Intrepid Sea, Air & Space Museum. Museum ini dapat dibilang cukup unik karena terletak dalam sebuah kapal, yang di bagian atas terdapat jejeran pesawat. Beberapa dari kami berganti menjadi pakaian casual. Kami dipandu tour guide untuk berkeliling melihat museum. Setelah tur, kami diberi makan lagi, kali ini semacam tortilla wraps, in which I didn’t finish since I’m still full. Uniknya, kami harus melewati ruangan dengan I don’t know what but it’s definitely hot untuk sampai ke ruang makan yang berada di bagian bawah kapal.

Us looking so done with the wind

Kami juga diberi waktu bebas untuk berkeliling bagian space. Hujan mulai turun rintik-rintik, angin juga makin lama makin kencang, sehingga I don’t have much photos there, sadly. Sebagai oleh-oleh, aku membeli perangko bernuansa luar angkasa. Well, actually nggak bisa disebut sebagai oleh-oleh juga, tapi untuk koleksi pribadi. Hihihi.

Trying to smile as the wind blows

Sebetulnya, banyak pilihan merchandise. Mulai dari boneka, figur pesawat, gantungan kunci, even bola peramal itu ada. HAHA. But idk those aren’t my things, hence I chose stamps. Aku menunggu Gita dan Padma yang masih sibuk memilih barang untuk dibeli. And I just realized that we were the only one there, yang lain udah nggak ada. Aku, Gita, dan Padma mencari-cari rombongan kami. Bolak-balik dari satu gedung ke gedung lain yang sudah kami lewati, namun hasilnya nihil.

Aku pun akhirnya bertanya kepada salah satu penjaga pintu, and she said, “Your group was there,” menunjuk salah satu bagian yang telah mengarah ke pintu keluar. Wanita itu mengenali pemandu kami, Kak Doni, karena ia selalu memakai topi merah dan backpack. Sebelum keluar, karena sudah tak tahan, aku pun langsung lari ke kamar mandi. Lalu, kami pun bergegas keluar, mencari-cari bis yang ternyata benar sudah ada di depan museum. And, yep, we became the last one to arrive karena terlalu lama memilih oleh-oleh.

Kak Doni mengajak kami ke Kith, salah satu toko sepatu yang tahun lalu juga direkomendasikan oleh kakak kelas kami yang ikut HMUN. I’m not a big fan of shoes. Tapi, akhirnya aku turun dan ikut lihat-lihat. Kith ini selain toko sepatu, mereka juga menjual dessert seperti es krim. Nyesel, sih, nggak nyoba, karena waktu lihat di Instagram kayaknya enak gitu. Haha.

Selain ke Kith, kami juga ke Foot Locker atas permintaan para penggemar sepatu, literally most of us. Aku yang bukan penggemar sepatu pun memutuskan untuk tidur di bis, bersama dua atau tiga orang lainnya yang melakukan hal serupa.

Puas berbelanja di Foot Locker, kami kembali menuju hotel. Hari masih belum terlalu gelap. Kami dapat beristirahat sejenak sebelum makan malam. Makan malam hari kedua dibumbui cita rasa Meksiko. Yep, Chipotle! Restorannya ada di seberang hotel, but I guess all of us are too tired and lazy to go there, sehingga semua makanan di takeaway.

The boys mengajak ke Times Square lagi malam itu. Aku terlalu capek sehingga skip dulu. Tapi tiba-tiba BM cokelat Hershey. Jadi lah aku nitip ke mereka without mentioning the specific type of chocolate. Tapi, syukurnya, they got it right. Hershey’s Cookie Layer Crunch Caramel. Thanks, boys! That one is new and isn’t available yet in Indonesia, though. (special thanks to David yang udah di Line berkali-kali sangking BM-nya HAHA) So I ended up buying more to eat it at home. :p


NEXT: Thia's Journey in the US: Lost in New York
(P.S: Might be posted late since I have exams coming on my way!)

PREVIOUS:
Thia's Journey in the US: A Prologue 

Foto-foto lengkapnya ada di album FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1221288707966408.100002558717962&type=3 

Tulisanku tentang HMUN 2017 di PROVOKE!
http://www.thiafadhila.com/2017/04/tulisanku-tentang-hmun-2017-di-provoke.html

Saturday, May 27, 2017

Thia's Journey in the US: A Prologue


Okay. First of all, I would like to apologize for rarely making a blogpost. This trip was from the end of January. However, I just happened to write it now. Ahahah. I wrote bits of it (already 5 pages long!). Unfortunately, my laptop wasn’t being a good laptop, hence the file is gone. I decided to rewrite this now cause I really want to share my amazing experience. I will write and post this in parts, to prevent it from getting deleted (and having to rewrite all of this again ; v ;). 

Few days ago, I watched Critical Eleven with my mom and friends. There’s this tingling feel I felt during the movie since I watched it alongside the peeps who went to Harvard Model United Nations last January. Some scenes from the movie was taken in New York. Yes, that New York, the city that never sleeps. It automatically brought back our memories, our first four days in the US. 

Bareng mama, tante, sepupu

Semua berawal ketika guru PKn kami, Pak Satriwan, yang bercerita tentang salah satu kegiatan unggulan yang diikuti oleh murid-murid SMA Labschool Jakarta, Harvard Model United Nations. For those who don’t know, Harvard Model United Nations adalah lomba simulasi sidang Persatuan Bangsa-Bangsa yang diselenggarakan oleh Harvard University. Pelajar SMA dari berbagai penjuru dunia berkumpul mewakili salah satu dari 193 negara yang tergabung dalam PBB, berpidato menyatakan masalah yang dialami negara mereka, bernegosiasi, and we make a draft resolution to solve the problems. Sounds interesting? For a high school freshmen who’s not fully adapted yet to the high school life, it sounds TRULY interesting. I swear. Apalagi foto-foto kegiatannya dipajang di koridor sekolah. Bikin ngiler. P.S: Good luck for the 10th graders who are planning to apply! 

Dan daftarnya pun ternyata nggak seribet yang aku pikir. Cukup membuat essay sekitar 1.500-3.000 kata mengenai salah satu dari tema yang ada. The theme varies. Starting from women’s participation in government, protection for the disables during war, even ISIS. There were 25 themes in total and we can only pick one. Aku memilih tema mistreatment of the mentally ill. I remember finishing and submitting it to my teacher during the deadline. Pagi-pagi dateng ke sekolah terus nyelesain essaynya di perpustakaan bareng temen-temen. Emang perpus Labschool udah pewe abis, dah. Hahaha. 

Essay tersebut dikirim oleh pihak sekolah dan diseleksi oleh pihak Harvardnya langsung. Alhamdulillah, I got chosen as one of the 31 students who’ll spend 14 days in the US. Moreover, kami adalah satu-satunya delegasi dari Indonesia, bahkan Asia Tenggara, yang mengikuti Harvard Model United Nations. Though, we pay for all our expenses, including the training. Ya, sebelum berangkat ke US, tiap minggu, kami mengadakan latihan. The coaches, Kak Mayang, Kak Habib, dan Kak Radhiyan, adalah mahasiswa Universitas Indonesia yang sudah berpengalaman memenangkan beberapa MUN baik skala nasional maupun internasional. 

Oh iya, kami juga tidak akan berada dalam satu ruangan, melainkan berkonferensi di komite masing-masing. My first choice was United Nations Human Rights Council. Sayangnya, kami tidak mendapat slot untuk komite tersebut. My second and third choices were UN Conference on Women and UN Social Humanitarian Council. I wasn’t there when we picked the council, karena sedang mengikuti penguatan HAM. Alhasil, dapet sisaan, deh. Antara UN Security Council dan Special Political and Decolonization Committee. Sempet gambling juga, mikirin the pros and cons of both councils. Akhirnya, aku ditempatkan di SPECPOL mewakili bersama Medina. SMA Labschool Jakarta mendapat dua negara untuk diwakilkan, Angola dan Yaman. Aku mendapat Yaman. 

Dan perjuangan para delegasi HMUN telah sampailah pada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa berkumpul di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 21 Januari 2017. 31 siswa dan 2 guru pendamping, Miss Nuniek dan Pak Agus. Aku dan mamaku menikmati santap siang di bandara. When I was about to recheck what’s on my luggage, aku baru sadar bahwa kunci koperku tertinggal di rumah. Aku langsung meminta tolong ibu (sebutan untuk tanteku) agar mengantarkan kunci koperku ke bandara. 

Ketika teman-temanku membawa dua koper besar, aku hanya membawa 1 koper besar dan 1 koper kecil untuk kabin, that’s when I realized people actually bring an empty luggage to be filled with things they bought from their destination. Pardon me as a newbie traveler. LOL. 

 Pesawat kami take off pukul 18.04. Yes, I wrote every details of what I did during the flight in my notes. Aku membawa buku saku dan pulpen di tempat aku menaruh pasporku. But I ended up enjoying the trip a little too much that I forgot to write the details once I arrived in the US. Perjalanannya cukup panjang, 7 jam hingga ke Dubai untuk transit. Sekitar pukul 00.30, kami sampai di Dubai International Airport. 

Hello, Dubai!

I was feeling so dizzy during the flight, dan aku baru ingat bahwa obat-obatanku semua kutaruh di koper bagasi. Sesampainya di bandara, aku langsung menukar 15 Dolar Singapur menjadi 35 Dirham, dan membeli obat pereda pusing warna biru seharga 10 Dirham. 

Saat aku dan teman-teman sudah berkumpul, salah satu temanku berceletuk, “Yah, sayang banget, Thi. Kenapa nggak minta aja?” I swear asking people for the medicine is the last thing to do on my list. Makin menyesal lagi ketika aku diingatkan bahwa toko-toko di bandara menerima Dolar US sebagai mata uang. I should’ve exchanged the SGD into USD instead. Aargh! 

Me getting ready for the flight

Pesawat kami dari Dubai menuju US take off pukul 2 pagi waktu Dubai (GMT+4). Sebelumnya, aku dan beberapa temanku telah berganti pakaian menjadi yang lebih hangat dan sepatu boots. Aku sendiri membawa sweater, coat, gloves, beanie, and boots yang baru saja kubeli sehari sebelum berangkat di dalam koper kabin. Kali ini, perjalanannya lebih panjang, sekitar 13 jam. I don’t really remember anything but what impressed me the most is the food. Seriously, gotta give it for da food.

NEXT:
Thia's Journey in the US: It's New York!


Sunday, April 9, 2017

Tulisanku Tentang HMUN 2017 di PROVOKE!


SMA Labschool Jakarta Ngerasain Simulasi Sidang PBB di Boston
Oleh  Muthia Fadhila Khairunnisa

28 February 2017

Belajar berdiplomasi juga ketemu temen baru dari berbagai negara. 

Apa rasanya berada di tengah sidang PBB di umur lo yang masih muda?
Apa rasanya ngomongin isu-isu dunia barengan anak-anak dari negara lain?
Nggak mungkin?
Eitsss jangan salah!!

Karena 31 siswa dari SMA Labschool Jakarta ini ngerasain hal-hal yang disebutin di atas. Yass mereka terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti Harvard Model United Nations di Boston, Amerika Serikat.

Model United Nations merupakan simulasi sidang PBB yang menjadi ajang pelajar tingkat SMA hingga mahasiswa untuk mengasah kemampuan diplomasi dengan membuat resolusi mengenai isu-isu dunia.

Model United Nations ini diadakan pada 26 - 29 Januari 2017 lalu. Sejumlah 31 siswa dari SMA Labschool Jakarta menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia bahkan Asia Tenggara untuk mengikuti ajang ini. Dan dalam kegiatan ini, mereka terpilih untuk mewakili negara Angola dan Yaman dalam berbagai badan PBB.

Untuk lolos seleksi, mereka harus mengirimkan esai mengenai isu-isu dunia yang disajikan. Kemudian esai diseleksi langsung oleh pihak Harvard University. Dari berikut nama-nama yang terpilih:

Angola: Syafa Sakina Noer dan Andhika Mayangsari untuk Disarmament and International Security Committee, Hanni Hafsari Putri dan Diedra Nabila Adriansyah untuk Social, Humanitarian, and Cultural Committee, Carissa Nuryasmin Putri dan Jessica Fathin Humairah untuk Special Political and Decolonization Committee, Muhammad Syahreza Ishak dan Raden Abdullah Dimas untuk Legal Committee, Aurel Nafiz Johansyah untuk World Health Organization, Fatia Aisyah untuk World Trade Organization, Kamila Nurmafira Kusumaningdyah untuk Special Session on Terrorism, Gabriela Zurliana Said untuk World Conference on Women, Muhammad Athar Iswandi dan Yudhistira Ghifari Adlani untuk United Nations Environment Assembly, Rayhan Hanif Oetomo untuk African Union, Brigitta Gisbertha Samosir untuk World Bank, serta Salsabila Rizal Tarigan dan Satria Mahendra Brunner untuk Security Council.

Yemen: Muhammad Edra Adrian Prasetio dan Muhammad Saiful Adhim untuk Disarmament and International Security Committee, Mushaffa Huda dan Oliver Muhammad Fadhlurrahman untuk Social, Humanitarian, and Cultural Committee, Muthia Fadhila Khairunnisa dan Medina Auradanty untuk Special Political and Decolonization Committee, Natasya Nabila dan Padma Danti Umayi untuk Legal Committee, David Erick Christian untuk World Health Organization, Nashita Indira Susanto untuk World Trade Organization, Azzahra Motik Adisuryo untuk Special Session on Terrorism, Ariqo Mutiara Hairudin untuk World Conference on Women, serta Laila Azzahra untuk United Nations Development Programme.

Setelah terpilih, mereka juga harus membuat position paper yakni paper yang berisi pandangan negara yang mereka wakili mengenai topik yang akan dibahas sesuai komite mereka. Setiap minggu pun diadakan latihan persiapan seperti latihan pidato, bernegosiasi hingga membuat resolusi. Pokoknya persiapan matang sebelum terbang ke Boston.

Begitu acara, semua anak SMA dari berbagai negara menyampaikan pendapat mereka, membuat blok-blok sesuai posisi negara. Dan kemudian membuat resolusi untuk isu yang dibahas.

Sebelum mulai sidang, negara-negara harus mengangkat placard untuk menyatakan kehadiran mereka dan berbicara lantang, “Present!”. Di ruangan dengan lebih dari seratus lebih perwakilan negara, tentu para peserta harus bisa terlihat unik agar ditunjuk oleh Board of Directorsnya.

Nggak cuma soal berdiplomasi, dengan mengikuti Harvard Model United Nations bisa berkenalan dengan teman baru dari berbagai negara. Seru kan?

Tapi nggak cuma sampai di sana. Teman-teman dari SMA Labschool Jakarta yang menetap selama dua minggu ini juga melakukan wisata edukasi di empat negara bagian. Di New York, mereka mengunjungi United Nations Headquarter. Memasuki ruangan sidang asli yang dipakai perwakilan-perwakilan negara untuk merumuskan resolusi.

Di Boston, usai Harvard Model United Nations, mereka berkunjung ke Harvard University, Massachussets Institute of Technology, juga Georgetown University di Washington DC untuk mendapat penjelasan dari tour guide yang merupakan mahasiswa di sana.

Perjalanan berhenti di Washington DC. Selain dapat berdialog dengan para staf duta besar di bagian pendidikan dan kebudayaan serta perdagangan, Bapak Budi Bowoleksono, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, juga ikut menjamu dan memperlihatkan kantornya. Nah kebayangkan serunya perjalanan temen-temen dari SMA Labschool Jakarta ini. Buat lo yang tertarik untuk jadi diplomat, ajang kayak gini jangan sampe lolos. Yuk, mulai ikut “Present!” di Model United Nations!


Sumber:
http://www.provoke-online.com/index.php/repro-corner/our-repro/7825-sma-labschool-jakarta-ngerasain-simulasi-sidang-pbb-di-boston

Foto-foto lengkapnya ada di album FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1222694401159172.1073742220.100002558717962&type=3

Sedikit cerita tentang kegiatan HMUN 2017 ada di:
http://www.thiafadhila.com/2017/04/harvard-model-united-nations-hmun-2017.html


Harvard Model United Nations (HMUN) 2017


Menginjakkan kaki di John F. Kennedy International Airport rasanya seperti sebuah mimpi bagiku. Disambut dengan mesin-mesin otomatis yang langsung mengolah data dari paspor kita, masuk ke bagian imigrasi, mengambil bagasi, kemudian menunggu bus.

Ini merupakan musim dingin pertamaku. Hanya dengan mengenakan baju hangat karena ingin “mengetes” suhu di luar, 31 siswa kelas 11 SMA Labschool Jakarta yang terpilih untuk mewakili Indonesia dan Asia Tenggara di 2017 Harvard Model United Nations, Boston, berlarian membawa koper ke bis putih dengan tulisan Mr. BMJ di sampingnya. Kami disambut ramah oleh Uncle Andy, supir bis yang akan mengantarkan kami ke empat negara bagian selama 14 hari.

Bersama dua guru, Pak Agus dan Miss Nuniek, serta satu tour guide, Kak Doni, yang mendampingi, kami menetap di New York selama empat hari, Boston selama lima hari, Philadelphia selama dua hari, dan tiga hari di Washington DC sebagai penutup.

Kegiatan utama kami, juga yang menjadi alasan mengapa 31 siswa ini berada di Amerika Serikat adalah untuk mengikuti simulasi sidang PBB di Harvard Model United Nations. Mewakili negara Angola dan Yemen di beberapa komite, seperti General Assembly atau Majelis Umum PBB, juga Security Council atau Dewan Keamanan PBB, kami berdebat selama empat hari untuk mencari solusi akan permasalahan yang tengah dihadapi dunia. Aku sendiri mewakili Yemen di Special Political and Decolonization Committee (SPECPOL) bersama Medina yang membahas tentang kolonialisme di luar angkasa.

Kami mengunjungi berbagai tempat menakjubkan. Mulai dari Times Square, United Nations Headquarter, Independence Hall, hingga White House dan Smithsonian Museum. Kami juga mendapat penjelasan mengenai Harvard University, Massachussets Institute of Technology, dan Georgetown University langsung dari mahasiswanya sembari melakukan tur keliling kampus.

Tidak hanya universitas, kami mengunjungi Natick High School dan menjadi siswa setengah hari di sana. Aku mengikuti kelas psikologi, sosial, dan menulis kreatif. Bersama Adhim, Jessica, dan Gabby, kami mempresentasikan Jawa Barat di depan para murid Natick dan banyak berdiskusi dengan mereka.

Mengisi waktu kosong, aku sempat bertualang keliling New York dan Boston bersama teman-temanku. Mengunjungi New York dan Boston Public Library, berfoto di depan Empire State Building dan Madison Square Garden, hingga melihat demo imigran di Boston.

Two weeks passed by so quickly. We ate our last dinner at that well-known Hard Rock Cafe after spending a good time strolling around DC. I learned new things everyday. I’ve adapted to my surroundings. I still have so much to explore not only on these four states, but all 50 states. And hopefully I can come back to achieve that goal. Thank you for the great experience, United States.




Foto-foto lengkapnya ada di album FB-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1221288707966408.100002558717962&type=3

Tulisanku tentang HMUN 2017 di PROVOKE!
http://www.thiafadhila.com/2017/04/tulisanku-tentang-hmun-2017-di-provoke.html

Monday, January 9, 2017

Launching of KKPK Class


Kemarin, Minggu, 8 Januari 2017, ada kumpul-kumpul anak sekolahan di Gramedia Matraman, lho! Memakai sweater biru tua, siap menyambut semester baru. Ada apa, sih, sebenarnya?

Ya, hari itu ada acara peluncuran serial KKPK Class, serial baru dari Kecil-Kecil Punya Karya yang mengisahkan kehidupan empat sekawan, yakni, Karima, Kiki, Putra, dan Karin. Acara dibuka oleh MC dan hiburan lagu-lagu. Kemudian, aku bersama Kak Izzati dan Kak Rama berbagi pengalaman sekaligus kilas balik tentang pertama kali menulis KKPK kepada teman-teman yang datang. Kami juga dihibur oleh penampilan kabaret tokoh-tokoh utama serial KKPK Class yang asyik dan keren! Tak hanya itu, kami juga dihibur oleh beberapa lagu dari komunitas untuk Papua, sekaligus pemberian paket buku seri KKPK Class untuk teman-teman di Papua. Puncak acara tentu saja LAUNCHING OF KKPK CLASS yang dilakukan oleh Kak Yadi dan Kak Mida. Terakhir, kami melakukan mannequin challenge yang sedang tenar-tenarnya itu.

Before the event starts, I met Mr. Allan Schneitz, the Chief Operating Officer of Lifelearn from Finland, which is dubbed as the country with top educational system. My life as a writer was brought into the conversation, as he and his team in Finland is willing to open a new door for us, KKPK writers, to be able to convey our ideas better. Yep, that’s right, something new and special is coming for you guys and I’m excited! Who’s with me? Haha. 

Selain berbincang dengan tamu dari luar negeri, aku senang sekali bisa kumpul-kumpul dengan para alumni KKPK. Usai acara peluncuran, kami berkumpul di suatu tempat makan untuk berdiskusi tentang Satu Dekade Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI). Wah, tidak terasa, ya, sudah mau sepuluh tahun. Aku jadi ingat pertama kali mengikuti KPCI ketika kelas 4 SD, yaitu tahun 2009, yang bersamaan dengan peluncuran serial Pink Berry Club. Menginjak tahun 2017, delapan tahun sudah (yang berarti menginjak tahun kesembilan), aku bertemu dan bertukar cerita dengan kawan-kawan hebat. Kak Mida dan Kak Rama memberi sedikit bocoran tentang apa saja yang akan dilaksanakan untuk merayakan Satu Dekade KPCI. Kami, yang datang, juga melontarkan ide-ide untuk membantu memeriahkan acara. Senangnya bisa jadi bagian dari alumni KKPK dan KPCI.

Meski keesokan harinya aku sudah mulai kembali menjalani aktivitas sebagai pelajar, aku sangat senang dapat menghadiri peluncuran serial KKPK Class ini. Jarang-jarang juga aku bertemu dengan penulis-penulis lain karena kelihatannya sudah mulai pada sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Terima kasih untuk Kak Rama yang sudah mengajakku barengan bikin konsep buku untuk seri KKPK Class ini. Terima kasih untuk kakak-kakak DAR! Mizan yang sudah bekerja keras mempersiapkan acara keren ini dengan baik. Terima kasih juga untuk Kak Yadi, Kak Mida, Kak Riska, dan kakak-kakak lainnya yang sudah mengundangku dan Kak Izzati di acara launching ini. Terakhir, aku juga sangat berterima kasih pada teman-teman yang telah hadir. Aku senang sekali! Semoga di tahun 2017 ini KKPK Class menjadi serial yang dinikmati anak-anak Indonesia dan KPCI berjalan lancar. Aamiin.


NB:
Foto-foto lengkapnya ada di Facebookku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1195415683887044&type=3&pnref=story


Sunday, December 4, 2016

Review Film “Bulan Terbelah di Langit Amerika 2”


“Apakah Muslim penemu Amerika?” sebuah pertanyaan besar menyambut para calon penonton film “BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA 2”.

Setelah sukses dengan kisah Hanum (diperankan Acha Septriasa) dan Rangga (diperankan Abimana Aryasatya) di “99 CAHAYA DI LANGIT EROPA” dan “BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA”, alhamdulillah, aku dan mamaku Shinta​ Handini​ diberi kesempatan untuk menjadi salah satu penonton pertama film lanjutan kisah Hanum dan Rangga ini. Sabtu, 3 Desember 2016, kami diundang langsung oleh penulisnya, Kak Rangga Almahendra​ dan Kak Hanum Salsabiela Rais​ untuk menghadiri gala premier filmnya. Namun, kali ini Kak Hanum tidak bisa hadir ke gala premier film ini, karena sebentar lagi akan melahirkan. Semoga semuanya lancar dan sehat ya, Kak! Aamiin.

Gala premiere film Bulan Terbelah di Langit Amerika didakan di XXI Plaza Indonesia dihadiri oleh para kru produksi dan pemainnya, di antaranya ada Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Nino Fernandez, Hannah Al Rashid, Rianti Cartwright, Ira Wibowo, Boy William, sutradara Rizal Mantovani, dan tentu saja Kak Rangga Almahendra sebagai penulisnya.

Sebelum mulai menonton, ada perkenalan para cast juga sedikit berbincang-bincang dengan mereka. Untuk film ini, para pemain melaksanakan syuting di dua tempat di Amerika, yaitu, New York dan San Francisco. Sebelum menonton film, Acha, yang menyumbangkan suara merdunya untuk soundtrack film ini, bersama Ade Omar, menyanyikannya di depan para penonton live. Ah, jadi makin tidak sabar rasanya!




Berawal dari Sebuah Koin 
Ya, semua berawal dari sebuah koin tua dengan sufix yang berpindah-pindah tangan ke berbagai pihak. Hanum, oleh Gertrude, atasannya, diminta untuk menulis sebuah artikel mengenai kebenaran apakah orang Muslim yang pertama menemukan Amerika, bahkan jauh sebelum Christopher Columbus menemukannya, dengan bayaran yang membuat Hanum tidak menolaknya. Gertrude juga memastikan bahwa Hanum harus mendapatkan buktinya. Salah satunya adalah sebuah koin. Koin yang desas-desusnya merupakan peninggalan penjelajah Muslim ketika pertama kali meninggalkan jejak di Amerika, tepatnya San Francisco.

Tak hanya koin, ada pula sebuah buku, yang setelah aku tanya Mbah Google, berjudul “1421 SAAT CHINA MENEMUKAN DUNIA”, ditulis oleh Gavin Menzies. Aku menjadi tertarik untuk membaca bukunya.


Sambil Belajar Sejarah 
Terakhir kali aku mendengar nama Laksamana Cheng Ho adalah ketika pelajaran sejarah di sekolah. Laksamana Cheng Ho adalah seorang penjelajah Tiongkok yang sudah merantau ke banyak daerah di Asia dan Afrika. Dan aku baru tahu kalau Cheng Ho adalah ternyata seorang Muslim! Aku juga belajar mengenai Suku Hui, suku Muslim terbesar di Tiongkok.

This is one of my favorite part of the film! Mempelajari sejarah dan budaya lewat film. Mengingatkanku pada drama-drama Korea yang memiliki setting waktu, tempat, dan latar sejarah kerajaan yang serupa dengan catatan sejarah asli, meski dimodifikasi dengan campuran alur cerita fiksi. Sejak saat itu, aku ingin sekali membuat film Indonesia lebih menarik dengan unsur-unsur sejarah yang dicampur fiksi. Dengan begitu, film dapat dijadikan media yang asik untuk mempelajari sejarah. Doakan agar impianku terkabul, ya!


Mempersatukan yang Terbelah 
Bhinneka Tunggal Ika, motto bangsa kita, merupakan motto yang sangat cocok untuk menggambarkan dunia. Begitu pula apa yang disampaikan Ibu Sylviana Murni setelah menonton film ini, “Unity in diversity,”. Kak Rangga memang mengundang ketiga pasangan calon pemimpin DKI Jakarta untuk menghadiri premiere film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2. Namun, hanya dua yang hadir, yang diwakili oleh Bu Sylviana Murni dan Pak Sandiaga Uno. Yang satu lagi? Entahlah. Hehehe.

Beruntungnya, aku dan mamaku menyaksikan film ini satu studio bersama dengan tokoh-tokoh besar. Ada beberapa studio yang dipakai untuk pemutaran film ini secara bersamaan. Di Studio 3 tempatku menonton, ada Ketua MPR Bapak Zulkifli Hasan, Bapak Amien Rais (yang merupakan ayah dari Kak Hanum), Ketua GNPF MUI Ustadz Bachtiar Nasir, Bu Sylviana Murni, Pak Sandiaga Uno, dan tentunya Kak Rangga Almahendra sebagai penulisnya. Juga hadir otak dibalik keistimewaan film ini, sutradara Rizal Mantovani, dan penata musik Joseph S. Djafar. Mereka berterima kasih kepada penonton dan meminta kami untuk terus menyebarkan kebaikan melalui film ini. Sementara para pemain yang lain, sepertinya menyebar nontonnya di studio lain.

Masih ingat kisah Stephan (diperankan Nino Fernandez) dan kekasihnya, Jasmine (diperankan Hannah Al Rashid), di film sebelumnya? Kira-kira, apakah mereka menjadi salah satu yang dipersatukan setelah terbelah?

Azima Hussein (diperankan Rianti Cartwright), masih dari film sebelumnya, menjalankan hidup baru bersama suaminya Abe, dan dikaruniai seorang anak perempuan cantik bernama Sarah (diperankan Hailey Franco). Sayang, ibu Azima tidak menyetujui pernikahan tersebut. Lantas, apa yang akan terjadi?

Juga dengan keluarga yang baru muncul di film ini, keluarga Peter Cheng (diperankan Boy William), yang merupakan keturunan Suku Hui. Apa yang menyebabkan perselisihan di antara Peter dan keluarganya?


Mulai 8 Desember 2016 
Film “BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA 2” akan mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 8 Desember 2016. Diperkirakan berbarengan dengan saat melahirkannya Kak Hanum. Wah, barengan juga sama ultah ke-11 adikku yang kecil, Raifasha Areza Fadhila (Arza). Hehehe.

Sekali lagi, aku berterima kasih kepada Kak Rangga dan Kak Hanum atas undangan gala premiere film yang indah ini. Aku semakin ingin mengejar cita-citaku membuat film dengan unsur sejarah.

Bersama para penonton lain, aku juga makin sadar akan kehebatan Islam, dilihat dari tangguhnya para pendahulu kita seperti Laksamana Cheng Ho, juga orang-orang Suku Hui. Film ini menegaskan bahwa Islam itu cinta damai, dan hatiku pun damai melihatnya.

Penasaran dengan koin, buku, dan sejarah yang aku ceritakan?
Apakah benar bahwa Muslim adalah penemu Amerika?
Yuk, jangan ragu untuk mengajak keluarga serta kerabat untuk bersilaturahmi sambil menonton buah karya Indonesia yang menghangatkan hati ini!
Pssst ... menurutku, filmnya lebih bagus dari yang pertama, lho! Penasaran, kan? ^_^


Trailer Film BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA 2


Foto-foto lengkapnya ada diFB-ku ini:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1161157557312857.1073742208.100002558717962&type=3&pnref=story


Saturday, November 12, 2016

Sharing Menulis di KONFERENSI ANAK INDONESIA (KONFA) 2016


Rabu, 9 November 2016, alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk berbagi pengalamanku menulis di KONFERENSI ANAK INDONESIA (KONFA) 2016, yang tahun ini bertajuk "Aku dan Jendela Dunia". KONFA 2016 ini sendiri berlangsung selama 4 hari 3 malam, yaitu pada tanggal 8-11 November 2016. Para delegasi KONFA 2016 terdiri dari teman-teman kelas 4-6 SD dari seluruh Indonesia, yang karya tulisnya berhasil mengungguli sekitar 1.800 karya tulis teman-teman lainnya. Hebat, kan!

Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat, mengingat 7 tahun silam, aku adalah salah satu dari 36 delegasi yang duduk di posisi mereka. Ya, aku adalah salah satu delegasi KONFA 2009. Kami, delegasi KONFA 2009 pun berkesempatan menambah ilmu, berkenalan dengan kawan-kawan dari seluruh penjuru Indonesia untuk pertama kalinya, juga merumuskan deklarasi yang waktu itu mengungkit tema "Save My Food, My Healthy Food".

Dari rangkaian kegiatan KONFA 2016 yang didapat oleh para delegasi, aku berkesempatan ikut serta di hari kedua. Bahagia rasanya, aku berada di tengah-tengah anak kreatif penerus bangsa yang gemar membaca. Aku mengikuti perjalanan mereka dari pagi hingga malam bersama mamaku. Dari rumah, kami terlebih dahulu menuju Griya Patriya yang merupakan tempat penginapan para delegasi KONFA 2016 ini. Aku diharapkan sudah ada di Griya Patriya sebelum pukul 7 pagi. Alhamdulillah, sekitar pukul 6.10 aku dan mamaku sudah sampai di sana.

Di Griya Patriya, ternyata para delegasi masih sibuk bersiap-siap. Yang sudah siap, dipersilakan untuk sarapan. Aku dan mamaku yang baru datang, disambut oleh salah satu panitia. Kami dipersilakan duduk terlebih dahulu. Mamaku ternyata langsung menghubungi Kak Sigit Wahyu yang akan memandu kegiatan hari kedua ini. Kak Sigit segera turun dan menemui aku dan mamaku. Kami pun dipersilakan bergabung untuk sarapan bersama. Sambil sarapan, aku berkeliling menyapa adik-adik delegasi KONFA 2016. Sementara itu, mamaku mengobrol dengan Kak Sigit dan Kak Karto dari tim redaksi Majalah Bobo.

Selesai sarapan, seluruh delegasi KONFA 2016 diajak untuk masuk ke dalam bus. Tujuan pertama kami adalah Perpustakaan Habibie dan Ainun yang terletak di wilayah Jakarta Pusat. Begitu sampai di sana, aku kagum dengan arsitektur bangunannya yang memiliki filosofi tersendiri. Semuanya unik dan indah. Oh, ya, tadinya, di Perpustakaan Habibie dan Ainun ini, kami dijadwalkan untuk bertemu dengan Bapak B.J. Habibie. Tapi berhubung Pak Habibie harus menjalani pengobatan di Jerman selama 3 bulan, maka digantikan oleh anaknya yang bernama Pak Ilham Habibie. Jadi para delegasi akan bertemu dan berbincang dengan Pak Ilham Habibie.

Sembari menunggu kedatangan Pak Ilham, aku menghampiri peserta yang sibuk menulis daftar pertanyaan dan membaca buku. Ada yang menjawab suka membaca KKPK-ku, tapi dia tidak sadar kalau yang sedang bertanya adalah penulisnya. Hahaha.


Akhirnya, Pak Ilham Habibie datang juga. Beliau memang sangat sibuk. Tapi alhamdulillah bersedia meluangkan waktunya untuk bertemu dan bercerita tentang Perpustakaan Habibie dan Ainun kepada para delegasi KONFA 2016. Pak Ilham bercerita kalau beliau lahir di Jerman. Pak Ilham juga bercerita banyak tentang buku. Mulai dari tidak adanya paksaan untuk membaca, hingga buku-buku favorit Bapak B.J. Habibie. Selain itu, Pak Ilham juga bercerita tentang sejarah kehidupan Bapak B.J. Habibie, terutama tentang pesawat-pesawat yang telah dibuat oleh beliau. Luar biasa. Kita patut bangga mempunyai putra bangsa seperti Bapak B.J. Habibie dan Bapak Ilham Habibie.

Setelah berbincang dengan Pak Ilham yang ditutup dengan sesi foto bersama, para delegasi berpindah tempat menuju Roemah 7A di Kemang. Meski bertegur sapa dengan hujan dan angin, semangat para delegasi KONFA 2016 untuk beraktivitas masih jauh dari kata lelah. Mereka kembali menerima materi keren yang sangat bermanfaat. Kali ini materinya mengenai mind-mapping yang dibawakan oleh pakar mind-mapping, Bapak Sutanto Windura. Di akhir sesi, para delegasi diminta membuat mind-mapping tentang hobi mereka. Waaah, keren-keren, lho!


Akhirnya, tiba giliranku untuk berbagi pengalamanku dengan adik-adik delegasi KONFA 2016. Aku memperkenalkan diriku, lalu bercerita tentang kegiatanku saat menjadi delegasi KONFA 2009. Setelah itu, aku mulai sharing tentang menulis. Di sela-sela materi yang kuberikan, aku menayangkan cuplikan film anak untuk memancing imajinasi mereka. Aku pun bertanya beberapa hal tentang film yang telah mereka tonton. Ternyata, mereka semua bisa menjawab semua pertanyaanku. Wiiih, kereeen! Di sesi tanya jawab, berbagai pertanyaan tak terduga yang menggelitik dilontarkan oleh para peserta. Aku juga kagum dengan variasi buku yang mereka baca. Mulai dari KKPK, hingga buku Tere Liye, juga biografi tokoh-tokoh. Terakhir, seperti biasa, sesi sharing menulis dariku pun ditutup dengan foto bersama. Aaah ... dapat berbagi pengalaman dengan para delegasi KONFA 2016 merupakan sebuah kesempatan berharga sekaligus membahagiakan bagiku.

Terima kasih kuucapkan sebesar-besarnya kepada Tante Ani Kussusani, beserta staf Majalah Bobo yang sudah mengundangku. Alhamdulillah, tiap tahun aku diundang untuk menghadiri perhelatan Konferensi Anak Indonesia. Biasanya aku menjadi tamu undangan, wakil dari alumni KONFA. Sementara tahun lalu aku diundang menjadi fasilitator KONFA 2015. Dan tahun ini aku diundang menjadi pembicara di KONFA 2016. Biasanya, setiap kali diundang, aku mendapat banyak oleh-oleh dari Majalah Bobo. Di KONFA 2016, sebagai pembicara, aku mendapat oleh-oleh lebih banyak lagi, yaitu berupa plakat, boneka Bobo, jam dinding Bobo, satu set tempat makan Bobo, kartu Flazz Bobo, kaos KONFA 2016, dan dress batik. Lucuuu! Kapan-kapan undang lagi, ya ... Hehehe .... ^_^




Foto-foto lengkapnya ada di FB-ku:
https://www.facebook.com/shandini/media_set?set=a.1118315154930431.1150956509&type=3


Sunday, July 3, 2016

Sharing Menulis di Festival Literasi Jakarta 2016


Jum’at, 3 Juni 2016 lalu, aku diundang sebagai pembicara di acara Festival Literasi Jakarta 2016 oleh panitia dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Sebetulnya aku sudah diberi tahu info ini semenjak aku mengisi di acara MGMP Bahasa Inggris di SMAN 8 Jakarta. Tetapi kegiatannya diundur beberapa minggu setelahnya. Cerita tentang kegiatan di SMAN 8 Jakarta itu bisa dibaca di link ini: Sharing di Seminar Guru "Gerakan Literasi Sekolah".

Acara Festival Literasi ini diikuti oleh berbagai sekolah yang membuat stand-stand mengenai literasi di sekolahnya. Mulai SD, SMP, SMA, para murid berlomba untuk unjuk bakat dalam bidang literasi, diantaranya mendongeng, pidato, sampai musikalisasi puisi. Acara ini diadakan di Universitas Trilogi Jakarta. Aku datang kesana bersama kepala sekolahku, Pak Fakhruddin, dan guru Bahasa Inggris yang waktu itu mengajakku untuk ikut mengisi di SMAN 8 Jakarta, Miss Arifah.

Sehari sebelumnya, aku diberi rundown acaranya oleh Miss Arifah. Disitu tertulis bahwa aku akan sharing proses kreatif menulis bersama penulis dari SMAN 39 Jakarta. Aku jadi teringat ketika mengisi di SMAN 8, ada guru SMAN 39 yang bilang bahwa beliau punya murid yang juga seorang penulis, yaitu Ayunda. Wah, akhirnya setelah lama tidak bertemu aku bisa sharing menulis dengan Kak Yunda!

Aku, Pak Fakhruddin, dan Miss Arifah berangkat dari sekolah setelah Jum’atan. Hari itu adalah hari terakhir PAT, jadi aku ke sekolah dengan membawa buku pelajaran yang diujiankan serta membawa satu tas lagi berisi buku-bukuku yang kutitipkan di ruang guru. Sesampainya disana, aku melihat banyak stand per sekolah yang menunjukkan karya-karya muridnya. Labschool, SMAN 13, SMAN 26, SMAN 36, SMAN 12, SMA MH Thamrin, SMAN 39, MAN 4, MAN 3, SMPN 1, SMPN 115, Santa Ursula, Don Bosco Pondok Indah, SMAN 8, Mentari School, SD Penabur 1, SDN Menteng 1, dan masih banyak lagi.

Kami langsung diantar ke tempat acara. Pak Fakhruddin dan Miss Arifah menonton, sementara aku masuk ke ruang tunggu dan bertemu dengan Kak Yunda yang sedang mengobrol dengan beberapa pengisi acara lainnya. Rupanya Kak Yunda sudah di tempat semenjak pukul 10, dan acara dimulai terlambat. Jadi, sepertinya jadwal kami tampil pukul tiga sore akan diundur. Kak Yunda juga cerita bahwa ia sempat bertemu Nabilah JKT48.

Aku akhirnya juga menonton rangkaian acaranya. Banyak yang hadir disana. Ada dari Kementerian Agama, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, dan banyak tamu undangan lainnya. Ternyata, Nabilah JKT48 dipilih sebagai Duta Literasi karena minatnya yang besar pada bidang membaca.

Sebelum tampil, aku bertemu Bapak Dr. Sopan Adrianto, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan provinsi DKI Jakarta. Aku juga bertemu Bapak Mohammad Husein yang jadi Ketua Panitia Festival Literasi Jakarta 20016 ini. Dan untuk kesekian kalinya, aku juga bertemu dengan Bu Desi dan Bu Yully, guru-guru yang sangat baik hati. Aku, Pak Fakhruddin, dan Miss Arifah berfoto bersama semuanya dengan mengikutsertakan buku-bukuku. Aku juga bertukar kartu nama dengan beberapa guru.

Saatnya aku dan Kak Yunda tampil. Aku sharing pengalamanku menulis dengan Kak Yunda di panggung utama. Kami membahas bagaimana kami mendapat ide menulis dan berinteraksi dengan siswa-siswi dari sekolah lain yang juga tertarik dalam dunia tulis menulis. Sayangnya, waktu berlalu begitu cepat. Setelah sharing, aku juga sempat diwawancara oleh Radar Online.

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku mengitari stand, bertemu wajah-wajah yang kukenal seperti temanku saat SMP, atau teman yang kutemui saat mengikuti suatu kegiatan. Tak lupa berfoto dengan Kak Yunda yang juga langsung bergegas ke acara selanjutnya. Setelah puas berkeliling dan berfoto-foto, aku, Pak Fakhruddin, dan Miss Arifah kembali ke sekolah.

Terima kasih kepada Bu Desi, Bu Yully, Pak Mohammad Husein, dan lain-lain yang menjadi panitia di acara Festival Literasi Jakarta 2016 ini dan telah mengundangku di acara keren ini. Semoga nanti aku bisa ikut berpartisipasi lagi dalam kegiatan literasi yang lain.

Terima kasih kepada Pak Fakhruddin dan Miss Arifah atas izinnya sehingga aku berkesempatan untuk bisa sharing di depan teman-teman dari berbagai sekolah. Terima kasih juga untuk guru-guru dan teman-teman yang selalu mendukung kegiatanku. Doakan agar aku bisa terus berkarya, ya. ^_^

Foto-foto lengkapnya ada di Facebook-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1028401517255129&type=3

Saturday, July 2, 2016

SMA Labschool Jakarta di Ajang FLS2N Jakarta Timur 2016


Senin, 16 Mei 2016, ketika aku masih asik mendengarkan penjelasan materi sosiologi oleh Pak Marsono, Ocal, sang ketua kelas, mengkodekan dari jendela kecil di pintu kelas bahwa aku diminta untuk keluar. Aku pun meminta izin Pak Marsono untuk keluar. Kata Ocal, aku dipanggil Bu Reni, guru Bahasa Indonesia, untuk membahas Festival Lomba Seni Siswa Nasional, atau yang biasa disebut FLS2N.

Seminggu sebelumnya, aku ingat Bu Reni pernah bertanya padaku mengenai kegiatanku di minggu-minggu itu. Aku menyebutkan bahwa aku juga masih harus menyelesaikan artikel untuk majalah sekolah dan Kompas Muda. Bu Reni juga menyampaikan maksudnya untuk mengajakku ikut FLS2N cabang perlombaan film pendek.

Di ruang guru, sudah ada Bu Reni dan Soka, murid X IPS 1 yang menjadi sutradara film 1991, Winner Labs Film Festival 2016. Sejak SMP pun, Soka juga sudah mengikuti lomba-lomba film pendek bersama Padma yang sekarang sekelas denganku. Bu Reni menjelaskan bahwa 2 hari lagi, tepatnya Rabu, 18 Mei 2016, akan diadakan FLS2N tingkat kotamadya Jakarta Timur di SMAN 36 Jakarta. Kami diberikan lembaran berisi ketentuan-kententuan lomba. Mulai dari tema, unsur penilaian, dan sebagainya. Saat itu juga, kami harus mulai menggagas ide, membuat naskah, dan mempersiapkan hal-hal lain. Bu Reni juga sudah membuat surat izin untuk kami tidak mengikuti pelajaran dan fokus pada lomba.

Aku, Soka, dan Ocal mulai brainstorming di TRRC, ruang rapat sekolah, dimana ada beberapa siswa lainnya yang ternyata juga sedang mempersiapkan diri untuk lomba poster dan kriya. Tema film pendek yang harus dibuat adalah ‘Sekolahku Inspirasiku’. Di saat mendadak seperti ini, otakku blank, meskipun terbesit beberapa skenario tidak tuntas di pikiran. Aku baru menyadari bahwa beban membuat film jauh lebih berat daripada menulis cerita yang seperti biasa aku lakukan. Saat mengikuti Winner Camp Lomba Menulis Surat ‘Generasiku Melawan Korupsi’, aku ingat materi skenario yang dibawakan oleh kak Gina S. Noer. Beliau mengatakan bahwa kunci membuat skenario adalah “Show, don’t tell”. Cerita tentang kegiatanku di Winner Camp Lomba Menulis Surat ‘Generasiku Melawan Korupsi’ bisa dibaca di link ini: Cerita dari Winner Camp LMS Pos Indonesia 2016.

Kebetulan hari itu aku juga membawa laptop sehingga bisa langsung mengerjakan skenario di laptop. Tidak lupa, aku memberi tahu mama kalau aku diminta mewakili sekolah untuk ajang FLS2N film pendek. Kuberi tahu tempat dan waktu lombanya, juga teknisnya bahwa segala sesuatu harus dikerjakan hanya bertiga. Mulai dari membuat skenario, syuting, editing, bahkan pemeran film itu. Sekaligus bertukar inspirasi dan mendapat aspirasi dari mama.

Soka tiba-tiba mengusulkan untuk membuat film pendek dari puisi atau lagu. Pada saat itu, kami sudah punya ide tentang pohon harapan. Aku langsung teringat akan puisiku yang kutulis beberapa waktu lalu. Isinya tentang pohon yang kujadikan perumpamaan. Soka pun setuju dengan puisiku dan aku mulai merancang skenario di sekolah berdasarkan puisinya. Tepat sebelum waktu pulang sekolah, skenarionya selesai dibuat. Meski filmnya nanti hanya berdurasi 5 menit, kami ingin menunjukkan sesuatu yang sederhana namun bermakna dalam film tersebut. Kami menunjukkan hasil skenarionya pada Bu Reni dan Bu Reni memberi masukannya. Kami juga memberi tahu bahwa besok kami harus mulai script reading, percobaan pengambilan gambar, dan percobaan editing sehingga butuh mengambil waktu belajar lagi.

Keesokan harinya, kami mengikuti pelajaran pertama dulu, yaitu penjas yang kebetulan hanya tes lari pada saat itu. Setelah tes, aku, Soka, dan Ocal langsung berganti baju dan menuju ke TRRC. Karena nantinya TRRC akan dipakai untuk rapat, kami pun pindah ke kelas XII IPS 1. Kelas 12 juga sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar sehingga kelasnya kosong. Kami mulai script reading. Menuliskan gambaran tentang adegannya, shoot dari angle mana, edit dengan filter apa, dan sebagainya. Tidak lupa menulis peralatan dan perlengkapan yang harus dibawa untuk syuting. Ocal dan Soka juga mulai mencoba mengedit video dengan video kucing yang sudah Soka ambil. Mengatur saturation, filter, oh, tugasku menulis skenario, ya.

Tidak hanya menjadi penulis skenario, aku juga menjadi pemeran utama dalam film ini dengan nama tokoh Gia. Soka menjadi pemeran pembantu, Tan. Ocal pun juga ikut berakting menjadi pak guru. Adegan Ocal di-shoot oleh Soka. Begitu pula sebaliknya, adegan Soka di-shoot oleh Ocal.

Hari perlombaan pun tiba. Kami memakai batik Labschool di hari Rabu. Kebetulan, hari itu sekolah libur karena kelas 12 sedang acara wisuda. Tetapi tidak ada libur bagi kami yang akan mengikuti lomba. Hahaha. Paginya aku meng-print lampiran yang harus diserahkan ke juri, berisi identitas peserta, sinopsis, naskah, nama pemeran, dan kru. Sebenarnya sudah aku print di rumah. Sayangnya, lambang DKI Jakarta yang harus terpampang di halaman pertama itu tidak berwarna karena tinta printer warnaku habis.

Kami berangkat juga tidak bersama guru karena guru-guru sedang menghadiri wisuda kelas 12. Dengan ditemani guru PPG, kami berangkat dengan Uber. SMA Labschool Jakarta berpartisipasi dalam enam cabang lomba. Film pendek, vokal, poster, kriya, membaca puisi, dan menulis puisi. Untuk vokal, poster, dan kriya, ada masing-masing satu perwakilan perempuan dan laki-laki.

SMAN 36 Jakarta memang tidak terlalu jauh dari sekolah kami. Sesampainya disana, kami registrasi ulang dan menunggu pembukaan. Aku mulai was-was melihat siswa-siswi yang mondar-mandir membawa peralatan yang sepertinya digunakan untuk lomba film pendek. Soka dan Ocal membawa kamera lengkap dengan tripodnya. Namun, ternyata ada pula yang membawa kamera yang biasa kita lihat untuk liputan-liputan di televisi. Bu Ina, guru seni rupa, juga sudah mengingatkan untuk tidak terlalu berharap, yang penting melakukan yang terbaik meski dengan waktu persiapan yang tidak banyak.

Setiap cabang perlombaan dialokasikan ke berbagai kelas. Untuk film pendek, kelasnya bertempat di pojok, dekat taman belakang sekolah. Juri masuk dan membacakan ketentuan-ketentuan lomba. Ada sekolah yang membawa siswa-siswi lain selain tiga orang yang ikut lomba, untuk menjadi pemeran. Sayangnya, mereka tidak diperbolehkan untuk menggunakan lebih dari tiga orang dalam produksi film tersebut. Aku, Soka, dan Ocal yang mulai deg-degan hanya bisa berdoa sebelum lomba akhirnya dimulai pukul sembilan. Kami punya waktu enam jam sebelum waktu pengumpulan, yaitu pukul tiga sore. Target kami, tiga jam untuk syuting dan tiga jam untuk editing.

Adegan pertama adalah syuting Gia di bawah pohon. Karena filmnya maksimal berdurasi lima menit, kami mencoba membuat sesederhana mungkin dan hanya menggunakan dua lokasi syuting, yaitu di bawah pohon dan di dalam kelas. Setelah sekali take, aku berdiri untuk mengecek hasilnya, namun ketika meraba rokku, terdapat cairan lengket entah dari mana asalnya. Aku melihat ke tempat aku duduk dan menemukan getah pohon di sana. Sembari menunggu Soka dan Ocal berdiskusi mengenai angle dan yang lainnya, aku meminta izin untuk ke kamar mandi. Mencoba menghilangkan cairan itu, namun tidak bisa. Untungnya, aku membawa baju ganti yaitu seragam putih abu-abu, barangkali akan syuting dengan seragam itu. Aku pun mengganti rokku dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.

Ada adegan dimana aku menyenderkan kepalaku ke batang pohon. Ketika aku duduk di sisi yang berbeda dari tempat aku terkena getah pohon tadi, giliran rambutku yang terkena cairan lengket tersebut. Aku menghela napas. Belum apa-apa sudah sial, haha. Tetapi, pada akhirnya adegan di bawah pohon selesai dan kami masih punya waktu untuk syuting adegan di dalam kelas.

Untuk adegan kelas, kami memakai kelas yang memang dikhususkan untuk film pendek. Jaga-jaga tidak ada spidol, kami membawa spidol dari sekolah untuk menulis di papan tulis, seperti yang ada di dalam skenarionya. Ocal juga bertransformasi menjadi guru matematika. Agar totalitas, kami bahkan membawa kertas jawaban ulangan dari sekolah. Saatnya aku dan Soka beradu akting. Untungnya, film kami minim dialog dan rata-rata menggunakan voiceover, sehingga bukan menjadi masalah besar jika ada yang syuting satu ruangan dengan kami. Oh iya, di dalam ruangan juga terlihat OSIS dan MPK mengenakan jas yang mengawasi berlangsungnya acara.

Waktu menunjukkan pukul 12 dan terlihat seorang guru membawakan KFC untuk murid-muridnya yang sedang syuting. Kami pun membujuk para PPG yang ikut bersama kami untuk membelikan makanan yang sama. Akhirnya kami dipesankan McDonald untuk makan siang. Proses editing dimulai. Soka menjadi editor utama. Ocal bertugas menambahkan jika ada yang kurang. Sementara aku merapikan lampiran untuk diserahkan sembari membantu Soka memilih efek dan musik yang cocok dan ditemani snack yang dibawa Ocal dan Soka dari rumah.

Sekitar pukul setengah dua siang, anak-anak Labschool yang mengikuti lomba lain mulai berdatangan, mengambil makan, dan sekedar beristirahat karena lomba mereka telah selesai. Mereka juga menonton hasil karya kami sebelum kami serahkan. Kak Rasydan, yang ikut lomba vokal pria, menemukan kesalahan dalam penulisan FLS2N yang kami tulis menjadi FLSN karena terburu-buru. Padahal sebentar lagi pukul tiga dan kami sudah meng-extract file-nya menjadi .mp4 seperti di ketentuan. Sehingga dengan waktu yang kurang dari 15 menit lagi, kami harus mengedit dan meng-extract ulang videonya. Untungnya kami mengumpulkan tepat waktu dan merasa lega. Tinggal berdoa dan menunggu pengumuman.

Kami menunggu di kelas lain karena ruangan yang kami pakai untuk film pendek akan dipakai untuk penilaian juri. Setelah mengobrol-ngobrol, kami pun pindah ke aula tempat dilaksanakan pembukaan, menunggu pengumuman. Dua orang izin pulang duluan karena sudah dijemput, tersisa sembilan orang berbatik marun Labschool duduk berjejer ditemani tiga guru PPG.

Pengumuman dibacakan sekitar pukul empat. Pengumuman film pendek dibacakan terakhir karena masih dalam proses penilaian. Pengumuman pertama adalah pengumuman lomba baca puisi. Meskipun aku bukan peserta, aku juga ikut deg-degan. Juri membacakan, “Juara harapan 3 ...”. Spontan aku menoleh ke Soka dan berkata, “Oh, masih ada harapan.” yang bisa berarti dua, ada juara harapan, dan ada harapan untuk kami maju ke depan. Hahaha.

Perwakilan sekolah, Beby memang sudah dari SMP mempunyai bakat membaca puisi. Benar saja, Beby mendapatkan juara 2. Setelah itu, pengumuman lomba-lomba lain dibacakan. Satu persatu anak Labschool maju dan menerima piagam dan piala. Kak Rinda juara harapan 1 menulis puisi. Kak Luthfia juara harapan 3 lomba poster wanita. Kak Rasydan juara 1 vokal pria. Diva juara harapan 3 lomba kriya wanita. Aca juara 3 lomba vokal wanita. Tersisa satu lomba lagi dan kursi-kursi di antara aku, Soka, dan Ocal sudah kosong karena semuanya maju ke depan. Tersisa kami bertiga.

Pengumuman pemenang film pendek akhirnya dibacakan. Mulai dari juara harapan 3 hingga juara 2, nomor peserta kami tak kunjung disebutkan. Kami peserta nomor 7, lucky seven. Haha. Tiba saatnya juara pertama disebutkan. “Nomor peserta ... TUJUH!”. Aku langsung berdiri dan bersorak, begitu pula Soka dan Ocal.

Ketika sekolah lain hanya perwakilan satu orang yang maju, kami langsung maju bertiga ke panggung. Menerima piala bertuliskan Juara 1 Film Pendek. Ah, perjuangan tiga hari ini tidak sia-sia. Meskipun tertinggal pelajaran dua hari, aku masih bersyukur bisa membawa pulang piala di hari libur ini.

Setelah pengumuman selesai, kami semua berfoto bersama dengan piala dan piagam kami. Ini adalah tahun pertama SMA Labschool Jakarta ikut serta dalam lomba film pendek di FLS2N. Para peserta juara 1 dan 2 nantinya akan mewakili Jakarta Timur wilayah 1 untuk maju ke tingkat provinsi DKI Jakarta.

Teman-teman, mohon doa dan dukungannya, ya! ^_^


Foto-foto lengkapnya ada di Facebook-ku:
https://www.facebook.com/muthia.fadhila/media_set?set=a.1027999300628684&type=3&pnref=story